Apakah maksudnya pengawasan?
Pengawasan bagi orang-orang kudus dalam jemaat juga mencakup beberapa faktor. Tidak mudah seorang gembala melakukan pengawasan terhadap anggota-anggotanya. Lebih mudah ia mengawasi penyesat-penyesat dari luar. Itulah sebabnya tugas pengawasan terhadap para anggota ini sering dilalaikan.
Misalnya, kepada anggota jemaat yang rajin ikut kebaktian, yang banyak memberi uangnya, apabila kemudian hidupnya menyeleweng dari Firman Tuhan, sulit sekali si pendeta menegor dia. Atau, Iblis akan membisikkan ke telinga kita, “eh, siapakah engkau yang mau menegor orang lain? Apakah engkau sendiri sudah sempurna? . . .” Memang tidak ada yang sempurna. Tetapi apabila jelas-jelas ada dosa yang nyata di dalam jemaat, maka jemaat setempat mesti bertindak.
Jemaat Kristus adalah jemaat yang suci dan tugas pengawasan jemaat dipercayakan oleh Tuhan kepada jemaat itu sendiri (Matius 18:15-17). Jadi, jemaat setempat mempunyai tanggung jawab untuk mendekati anggotanya yang bersalah. Atau datang kepada anggota yang hampir-hampir jatuh dalam suatu jerat. Dengan mengingat diri sendiri tidak sempurna, dan dengan kasih Tuhan, kita hendaknya menasihati orang itu. “Saudara, kalau seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri” (Galatia 6:1,2).
Tetapi, apa yang sering terjadi di dalam gereja bila ada seorang anggotanya yang hidupnya mulai bermain-main dengan dosa? Bukannya kita datang kepada orang itu langsung untuk menasihati dia, melainkan semua orang di gereja mulai berbisik-bisik satu sama lain mengenai orang itu, tanpa ada seorangpun yang mau menasihati dia. Sebaliknya orang itu malah menjadi bahan pembicaraan semua orang. Ini tidak menolong orang tersebut. Malahan kita justru menjerumuskan dia ke dalam jurang dosa! Betapa sering kita bersalah di hadapan Tuhan dalam masalah seperti ini.
Jemaat yang lalai dalam tugas pengawasan ini – meskipun tugas ini tidak mudah – akan “ketularan dosa” (I Korintus 5:6-7). Misalnya, ada seorang anggota jemaat, bukan salah satu dari majelis, yang mulai dihinggapi kebiasaan minum minuman keras. Apabila ia dibiarkan saja tanpa di dekati, dinasihati dan ditegor, tidak lama kemudian seluruh jemaat dapat menjadi kumpulan para pemabuk. Apabila orang itu kemudian menambah minuman kerasnya dengan rokok, maka seluruh jemaat juga dapat akhirnya menjadi perokok. Nila setitik merusakkan susu sebelanga. Satu dapat merusakkan semuanya.
Pengawasan jemaat mempunyai beberapa tujuan: menyatakan orang yang tidak benar-benar mau bertobat & yang hidupnya hanya senang berada dalam dosa, dan mengeluarkan orang semacam itu dari persekutuan Kristiani (jemaat). Lihat I Yohanes 2:19. Juga mengajar orang percaya – tetapi yang masih main-main dengan dosa – agar ia sadar dan kembali ke jalan yang benar.
Tetapi, bagaimana tugas pengawasan ini dapat dilaksanakan dengan baik?
Alkitab memberikan beberapa petunjuk mengenai pelaksanaan tugas ini :
1.Apabila seorang bersalah, hendaklah ditegor langsung oleh yang mengetahuinya (Matius 18:15-17).
2.Apabila orang itu tidak mau mendengarkan, barulah membawa seorang atau dua orang saksi lain.
3.Apabila ia masih bersikeras dalam dosanya, seluruh jemaat menasihatinya. Apabila tidak berhasil menyadarkan dia, maka ia perlu dikucilkan.
4.Ketua-ketua jemaat setempat wajib mengambil tindakan apabila ada dosa yang nyata dalam jemaat itu (I Kor. 5:3-7).
5.Seorang yang bertobat dari dosanya, wajib diampuni dan disambut lagi (II Korintus 2:6-11).
Pelaksanaan tugas pengawasan ini perlu dalam kaitan dengan kesalahan-kesalahan berikut :
1.Ajaran sesat (Titus 1:13; 3:10). Apabila ada anggota yang terus mengikuti ajaran sesat, misalnya menolak Ketuhanan Yesus dan sebagainya, ia wajib ditegor.
2.Zinah (I Korintus 5:1-5).
3.Dosa terbuka (I Timotius 5:20).
Yang paling penting, dalam melaksanakan tugas pengawasan ini, hendaknya jemaat bertindak dengan adil (I Timotius 5:19), dengan rendah hati (I Korintus 10:12), dengan lemah lembut (Galatia 6:1), dan dengan kasih (I Korintus 13:4).
Jemaat yang setia dalam semua tugas ini, penyembahan, pemberitaan Injil, dan pemeliharaan serta pengawasan, akan sungguh menjadi jemaat yang memuliakan Tuhan (Efesus 1:12). <>
Tampilkan postingan dengan label tugas jemaat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas jemaat. Tampilkan semua postingan
TUGAS JEMAAT KRISTUS (3)
Tugas ketiga, pemeliharaan dan pengawasan.
Ini adalah tugas jemaat kepada para anggotanya. Tugas yang berat. Sering dalam gereja pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota jemaat kurang memadai. Barangkali pendeta senang apabila banyak orang datang ke kebaktiannya, sedangkan bagaimana keadaan rohani orang-orang itu kurang mendapat perhatian. Ada pula pendeta yang sibuk menjaga agar tidak ada seorang pun anggota gerejanya yang sesat terhilang ke kandang orang lain. Ini semua baik, tetapi jangan hanya itu saja! Pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota lebih dari pada ini.
Apakah maksudnya pemeliharaan?
Maksudnya ialah pemeliharaan bagi para orang kudus di dalam jemaat Kristus. Pemeliharaan ini mencakup beberapa faktor.
Pertama, persekutuan adalah satu unsur penting dalam pemeliharaan (Kis.Ras.4:23; 2:42; Ibrani 10:24,25). Persekutuan ini bukan melulu dalam kebaktian di gereja, tetapi juga dalam kunjungan, dalam doa, dalam saling menasihati dan saling melayani.
Tetapi saya ingin menambahkan sesuatu mengenai persekutuan ini. Persekutuan (atau biasa disebut: kebaktian) jangan sampai mengambil seluruh waktu orang Kristen! Memang persekutuan penting sekali, tetapi tidak usah setiap hari atau setiap malam ada persekutuan atau kebaktian. Kalau orang-orang Kristen setiap waktu “dipaksa” ikut persekutuan saja, kapan ia dapat bersekutu dengan keluarganya? Nanti tanggung jawab dalam keluarga masing-masing akan terabaikan dan rumah tangga bisa berantakan. Kalau selalu persekutuan saja, kapan akan keluar menginjil? Kekristenan tidak terdiri dari “kesibukan dalam persekutuan” belaka. Hendaknya ada keseimbangan dengan yang lain-lain.
Kedua, pengajaran Firman Allah juga penting dalam pemeliharaan (Kis.Ras.2:42; Efesus 4:12-16). Para anggota jemaat seharusnya sungguh memperhatikan acara Bible Study di gereja. Sedangkan jemaat yang tak mempunyai Bible Study bagi para anggotanya, harus mengadakannya.
Jemaat setempat mestinya juga berfungsi sebagai Sekolah Alkitab praktis yang membawa orang percaya baru kepada kedewasaan rohani. Tuhan Yesus tidak membuka sekolah Alkitab. Kedua belas rasulpun tidak membuka sekolah Alkitab. Tetapi Tuhan Yesus dan rasul-rasul sungguh mengajarkan Firman Allah kepada orang-orang percaya! Ini tidak berarti kita tidak boleh mendirikan sekolah Alkitab. Boleh-boleh saja! Hanya, hendaknya setiap jemaat Kristus menjadi tempat di mana Firman Allah sungguh diajarkan.
Ketiga, pelayanan upacara-upacara, yaitu baptisan dan perjamuan Tuhan, juga termasuk dalam tugas pemeliharaan jemaat.
Keempat, pelayanan sosial – yang menyangkut kebutuhan jasmani anggota jemaat setempat juga perlu diperhatikan. Tentunya yang dimaksudkan di sini adalah terhadap para anggota yang kurang mampu dan benar-benar membutuhkan pertolongan jasmani.
Dalam Kisah Para Rasul 6:1-6 ada contoh di mana kebutuhan sosial janda-janda di dalam jemaat itu sangat diperhatikan dan diurus dengan baik. Malah kedua belas rasul itu membentuk semacam panitia yang anggota-anggotanya dipilih dari jemaat itu sendiri untuk menolong para janda tersebut. Ayat-ayat lain yang menyebutkan hal ini ialah antara lain, I Timotius 5:3-6; Roma 12:13; Kis.Ras 11:27-30; dan sebagainya.
Rasul Paulus pun menganjurkan agar apabila sebuah jemaat di suatu tempat sedang menderita kekurangan, maka jemaat di tempat lain harus berusaha menolongnya (II Korintus 8:1-5). Mengapa Alkitabmenganjurkan demikian? Seperti kata Paulus, “supaya ada keseimbangan” di antara orang Kristen! Jangan sampai di dalam jemaat duduk dua orang bersama-sama, di mana yang satu datang ke kebaktian naik mobil dengan perut kenyang dan kantong penuh uang, sedangkan yang lain berjalan kaki dengan perut lapar dan kantong kosong, dan tidak diperhatikan sama sekali oleh yang berkelebihan itu!
Kasih Kristus di antara sesama orang Kristen seyogyanya jangan cuma di bibir saja, melainkan harus dinyatakan dalam perbuatan. Dan saya yakin, apabila dunia melihat bagaimana di antara sesama orang Kristen ada satu kasih yang nyata – yaitu saling menolong dan saling memperhatikan kebutuhan yang lain – akan ada lebih banyak orang yang mau bertobat kepada Tuhan Yesus dari pada sekarang ini di mana orang-orang Kristen dalam jemaat masing-masing kebanyakan hanya memikirkan kepentingannya sendiri!
Hanya, perlu dicacat bahwa pelayanan sosial ini harus dilaksanakan atau diberikan dengan hati-hati & bijaksana agar bantuan jasmani itu tidak disalahgunakan oleh sebagian orang. Harus dijaga betul, agar orang tidak lantas menggantungkan dirinya kepada bantuan gereja, melainkan supaya ia tetap berharap dan memandang kepada Tuhan Yesus.
Orang-orang Kristen Injili yang “terlalu injili” sering menutup mata terhadap kebutuhan jasmani orang lain. Mereka berpendapat bahwa yang terpenting adalah jiwa. Memang betul, tetapi mereka lupa bahwa kebutuhan jasmani juga diperlukan. Hanya sekali lagi, untuk melayani kebutuhan jasmani bagi orang lain ini jemaat perlu memakai banyak hikmat bijaksana. <>
Ini adalah tugas jemaat kepada para anggotanya. Tugas yang berat. Sering dalam gereja pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota jemaat kurang memadai. Barangkali pendeta senang apabila banyak orang datang ke kebaktiannya, sedangkan bagaimana keadaan rohani orang-orang itu kurang mendapat perhatian. Ada pula pendeta yang sibuk menjaga agar tidak ada seorang pun anggota gerejanya yang sesat terhilang ke kandang orang lain. Ini semua baik, tetapi jangan hanya itu saja! Pemeliharaan dan pengawasan kepada para anggota lebih dari pada ini.
Apakah maksudnya pemeliharaan?
Maksudnya ialah pemeliharaan bagi para orang kudus di dalam jemaat Kristus. Pemeliharaan ini mencakup beberapa faktor.
Pertama, persekutuan adalah satu unsur penting dalam pemeliharaan (Kis.Ras.4:23; 2:42; Ibrani 10:24,25). Persekutuan ini bukan melulu dalam kebaktian di gereja, tetapi juga dalam kunjungan, dalam doa, dalam saling menasihati dan saling melayani.
Tetapi saya ingin menambahkan sesuatu mengenai persekutuan ini. Persekutuan (atau biasa disebut: kebaktian) jangan sampai mengambil seluruh waktu orang Kristen! Memang persekutuan penting sekali, tetapi tidak usah setiap hari atau setiap malam ada persekutuan atau kebaktian. Kalau orang-orang Kristen setiap waktu “dipaksa” ikut persekutuan saja, kapan ia dapat bersekutu dengan keluarganya? Nanti tanggung jawab dalam keluarga masing-masing akan terabaikan dan rumah tangga bisa berantakan. Kalau selalu persekutuan saja, kapan akan keluar menginjil? Kekristenan tidak terdiri dari “kesibukan dalam persekutuan” belaka. Hendaknya ada keseimbangan dengan yang lain-lain.
Kedua, pengajaran Firman Allah juga penting dalam pemeliharaan (Kis.Ras.2:42; Efesus 4:12-16). Para anggota jemaat seharusnya sungguh memperhatikan acara Bible Study di gereja. Sedangkan jemaat yang tak mempunyai Bible Study bagi para anggotanya, harus mengadakannya.
Jemaat setempat mestinya juga berfungsi sebagai Sekolah Alkitab praktis yang membawa orang percaya baru kepada kedewasaan rohani. Tuhan Yesus tidak membuka sekolah Alkitab. Kedua belas rasulpun tidak membuka sekolah Alkitab. Tetapi Tuhan Yesus dan rasul-rasul sungguh mengajarkan Firman Allah kepada orang-orang percaya! Ini tidak berarti kita tidak boleh mendirikan sekolah Alkitab. Boleh-boleh saja! Hanya, hendaknya setiap jemaat Kristus menjadi tempat di mana Firman Allah sungguh diajarkan.
Ketiga, pelayanan upacara-upacara, yaitu baptisan dan perjamuan Tuhan, juga termasuk dalam tugas pemeliharaan jemaat.
Keempat, pelayanan sosial – yang menyangkut kebutuhan jasmani anggota jemaat setempat juga perlu diperhatikan. Tentunya yang dimaksudkan di sini adalah terhadap para anggota yang kurang mampu dan benar-benar membutuhkan pertolongan jasmani.
Dalam Kisah Para Rasul 6:1-6 ada contoh di mana kebutuhan sosial janda-janda di dalam jemaat itu sangat diperhatikan dan diurus dengan baik. Malah kedua belas rasul itu membentuk semacam panitia yang anggota-anggotanya dipilih dari jemaat itu sendiri untuk menolong para janda tersebut. Ayat-ayat lain yang menyebutkan hal ini ialah antara lain, I Timotius 5:3-6; Roma 12:13; Kis.Ras 11:27-30; dan sebagainya.
Rasul Paulus pun menganjurkan agar apabila sebuah jemaat di suatu tempat sedang menderita kekurangan, maka jemaat di tempat lain harus berusaha menolongnya (II Korintus 8:1-5). Mengapa Alkitabmenganjurkan demikian? Seperti kata Paulus, “supaya ada keseimbangan” di antara orang Kristen! Jangan sampai di dalam jemaat duduk dua orang bersama-sama, di mana yang satu datang ke kebaktian naik mobil dengan perut kenyang dan kantong penuh uang, sedangkan yang lain berjalan kaki dengan perut lapar dan kantong kosong, dan tidak diperhatikan sama sekali oleh yang berkelebihan itu!
Kasih Kristus di antara sesama orang Kristen seyogyanya jangan cuma di bibir saja, melainkan harus dinyatakan dalam perbuatan. Dan saya yakin, apabila dunia melihat bagaimana di antara sesama orang Kristen ada satu kasih yang nyata – yaitu saling menolong dan saling memperhatikan kebutuhan yang lain – akan ada lebih banyak orang yang mau bertobat kepada Tuhan Yesus dari pada sekarang ini di mana orang-orang Kristen dalam jemaat masing-masing kebanyakan hanya memikirkan kepentingannya sendiri!
Hanya, perlu dicacat bahwa pelayanan sosial ini harus dilaksanakan atau diberikan dengan hati-hati & bijaksana agar bantuan jasmani itu tidak disalahgunakan oleh sebagian orang. Harus dijaga betul, agar orang tidak lantas menggantungkan dirinya kepada bantuan gereja, melainkan supaya ia tetap berharap dan memandang kepada Tuhan Yesus.
Orang-orang Kristen Injili yang “terlalu injili” sering menutup mata terhadap kebutuhan jasmani orang lain. Mereka berpendapat bahwa yang terpenting adalah jiwa. Memang betul, tetapi mereka lupa bahwa kebutuhan jasmani juga diperlukan. Hanya sekali lagi, untuk melayani kebutuhan jasmani bagi orang lain ini jemaat perlu memakai banyak hikmat bijaksana. <>
TUGAS JEMAAT KRISTUS (2)
Tugas kedua, penginjilan.
Inilah tugas jemaat kepada dunia. Tugas yang penting sekali. Tugas pokok. Bukan sesuatu yang asing bagi kita. Ini adalah amanat agung dari Tuhan Yesus, pesan & perintah yang terakhir sebelum Ia naik ke sorga (Matius 28:19; Kis.Ras.1:8). “Pergilah . . . jadikanlah . . . saksikanlah.”
Tuhan Yesus sendiri memberikan contoh yang indah (Lukas 19:10). “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Sekarang hal ini merupakan tugas kita.
Tugas ini adalah tugas seluruh jemaat Kristus. Jemaat yang melalaikan penginjilan akan mati. Di mana saja ada jemaat yang lupa akan tugasnya dalam penginjilan, jemaat itu akan segera mati. Jemaat itu akan jadi kering, tandus. Syarat mutlak bagi jemaat yang mau hidup: bersaksi, menginjil. Jemaat yang ingin berkembang & tumbuh dewasa secara rohani, bersaksi!
Kadang-kadang ada orang yang berpandangan, karena di dalam gereja masih banyak persoalan, mari kita membereskan dahulu apa yang di dalam, mengajar, mengajar, mengajar, baru sesudah yang di dalam semua beres, kita keluar . . .! Saya tidak setuju. Keyakinan saya, sering ada banyak persoalan di dalam jemaat karena kita tidak mau keluar bersaksi, tak mau bekerja.
Ini sama dengan tubuh orang yang sakit-sakitan terus menerus karena orang itu tidak pernah mau bergerak, tidak mau latihan, tidak mau bekerja! Bergerak membuat tubuh menjadi sehat.
Bila ada jemaat yang lemah, ajaklah jemaat itu keluar bersaksi. Itu akan menyehatkannya.
Penginjilan ini adalah tugas seluruh anggota jemaat.
Bukan tugas khusus bagi gembala atau penginjil saja (Kis.Ras.8:1,4). Ya memang, ada pemberita-pemberita Injil yang diberi karunia khusus untuk itu. Tetapi ... siapa yang memulai jemaat Kristus di kota Roma? Tidak seorangpun mengetahuinya. Juga di tempat-tempat lain. Belum tentu seorang penginjil yang memulai membuka jemaat di sana. Belum tentu seorang rasul. Malahan mungkin sekali jemaat-jemaat itu dimulai oleh orang-orang Kristen biasa saja. Oleh kaum awam.
Sebenarnya orang Kristen biasa lebih mudah mendekati orang-orang lain di sekitarnya dari pada seorang pendeta atau penginjil mencoba mendekati mereka. Kaum awam terhadap sesama kaum awam lebih luwes hubungannya. Karena itu malah lebih gampang orang Kristen biasa memenangkan jiwa bagi Kristus, bila dilihat dari segi hubungannya ini.
Tetapi jemaat jaman sekarang sering membuat kesalahan besar : mereka menggaji seorang pendeta, menyerahkan semua tugas kepadanya termasuk mencari jiwa-jiwa baru, sedangkan kaum awam dilupakan atau dibiarkan duduk mendengarkan saja di bangku-bangku gereja dari minggu ke minggu. Tidak heran kalau jemaat itu sulit sekali untuk maju dan berkembang!
Rasul Paulus memberikan satu prinsip yang indah sekali kepada kita. “Apa yang telah engkau dengar dari padaku . . . percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (II Timotius 2:2). Artinya, usahakan sebanyak mungkin anggota jemaat diikutsertakan dalam aktivitas pemberitaan Firman Tuhan, sehingga mereka dapat memenangkan jiwa-jiwa lain lagi. Prinsip pelipat gandaan ini hendaknya dijadikan pedoman jemaat dan dipakai oleh setiap saksi Tuhan.
Tetapi jemaat perlu menyadari bahwa penginjilan bukan berarti seluruh dunia akan percaya kepada Tuhan Yesus. Dari pengalaman kita sadar bahwa hanya sebagian kecil saja yang akan percaya. Dalam Matius 7:12-14 kita membaca hanya sedikit orang yang masuk ke jalan yang sempit. Banyak yang memilih masuk ke jalan yang lebar. Orang tidak mau masuk pada jalan yang sempit itu.
Oh betapa indahnya memang, apabila ada banyak yang mau masuk ke jalan sempit. Tetapi di seluruh dunia ini, sedikit saja yang mau. Meskipun demikian, pemberitaan Injil tetap perlu dibawa ke mana-mana.
Perumpamaan empat macam tanah menjelaskan hal ini. Banyak yang mendengar, banyak pula yang mulai memperhatikan. Malahan banyak yang kelihatannya sungguh mau percaya. Wah, orang-orang itu kelihatan cepat maju. Namun ia tidak mau mencabut cinta dunia yang lama. Saingan terlalu keras. Akhirnya layulah ia. Kekayaan duniawi atau perkara lain menariknya kembali dari Tuhan. Yang berhasil sampai berbuah, pada akhirnya hanya seperempat saja dari keseluruhan yang mendengar.
Kita tidak dapat membawa segenap dunia kepada Kristus, tetapi kita harus membawa Kristus kepada segenap dunia! Ini tidak mudah, tetapi bagaimanapun juga, ini adalah tugas jemaat Kristus kepada dunia. <>
Inilah tugas jemaat kepada dunia. Tugas yang penting sekali. Tugas pokok. Bukan sesuatu yang asing bagi kita. Ini adalah amanat agung dari Tuhan Yesus, pesan & perintah yang terakhir sebelum Ia naik ke sorga (Matius 28:19; Kis.Ras.1:8). “Pergilah . . . jadikanlah . . . saksikanlah.”
Tuhan Yesus sendiri memberikan contoh yang indah (Lukas 19:10). “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Sekarang hal ini merupakan tugas kita.
Tugas ini adalah tugas seluruh jemaat Kristus. Jemaat yang melalaikan penginjilan akan mati. Di mana saja ada jemaat yang lupa akan tugasnya dalam penginjilan, jemaat itu akan segera mati. Jemaat itu akan jadi kering, tandus. Syarat mutlak bagi jemaat yang mau hidup: bersaksi, menginjil. Jemaat yang ingin berkembang & tumbuh dewasa secara rohani, bersaksi!
Kadang-kadang ada orang yang berpandangan, karena di dalam gereja masih banyak persoalan, mari kita membereskan dahulu apa yang di dalam, mengajar, mengajar, mengajar, baru sesudah yang di dalam semua beres, kita keluar . . .! Saya tidak setuju. Keyakinan saya, sering ada banyak persoalan di dalam jemaat karena kita tidak mau keluar bersaksi, tak mau bekerja.
Ini sama dengan tubuh orang yang sakit-sakitan terus menerus karena orang itu tidak pernah mau bergerak, tidak mau latihan, tidak mau bekerja! Bergerak membuat tubuh menjadi sehat.
Bila ada jemaat yang lemah, ajaklah jemaat itu keluar bersaksi. Itu akan menyehatkannya.
Penginjilan ini adalah tugas seluruh anggota jemaat.
Bukan tugas khusus bagi gembala atau penginjil saja (Kis.Ras.8:1,4). Ya memang, ada pemberita-pemberita Injil yang diberi karunia khusus untuk itu. Tetapi ... siapa yang memulai jemaat Kristus di kota Roma? Tidak seorangpun mengetahuinya. Juga di tempat-tempat lain. Belum tentu seorang penginjil yang memulai membuka jemaat di sana. Belum tentu seorang rasul. Malahan mungkin sekali jemaat-jemaat itu dimulai oleh orang-orang Kristen biasa saja. Oleh kaum awam.
Sebenarnya orang Kristen biasa lebih mudah mendekati orang-orang lain di sekitarnya dari pada seorang pendeta atau penginjil mencoba mendekati mereka. Kaum awam terhadap sesama kaum awam lebih luwes hubungannya. Karena itu malah lebih gampang orang Kristen biasa memenangkan jiwa bagi Kristus, bila dilihat dari segi hubungannya ini.
Tetapi jemaat jaman sekarang sering membuat kesalahan besar : mereka menggaji seorang pendeta, menyerahkan semua tugas kepadanya termasuk mencari jiwa-jiwa baru, sedangkan kaum awam dilupakan atau dibiarkan duduk mendengarkan saja di bangku-bangku gereja dari minggu ke minggu. Tidak heran kalau jemaat itu sulit sekali untuk maju dan berkembang!
Rasul Paulus memberikan satu prinsip yang indah sekali kepada kita. “Apa yang telah engkau dengar dari padaku . . . percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (II Timotius 2:2). Artinya, usahakan sebanyak mungkin anggota jemaat diikutsertakan dalam aktivitas pemberitaan Firman Tuhan, sehingga mereka dapat memenangkan jiwa-jiwa lain lagi. Prinsip pelipat gandaan ini hendaknya dijadikan pedoman jemaat dan dipakai oleh setiap saksi Tuhan.
Tetapi jemaat perlu menyadari bahwa penginjilan bukan berarti seluruh dunia akan percaya kepada Tuhan Yesus. Dari pengalaman kita sadar bahwa hanya sebagian kecil saja yang akan percaya. Dalam Matius 7:12-14 kita membaca hanya sedikit orang yang masuk ke jalan yang sempit. Banyak yang memilih masuk ke jalan yang lebar. Orang tidak mau masuk pada jalan yang sempit itu.
Oh betapa indahnya memang, apabila ada banyak yang mau masuk ke jalan sempit. Tetapi di seluruh dunia ini, sedikit saja yang mau. Meskipun demikian, pemberitaan Injil tetap perlu dibawa ke mana-mana.
Perumpamaan empat macam tanah menjelaskan hal ini. Banyak yang mendengar, banyak pula yang mulai memperhatikan. Malahan banyak yang kelihatannya sungguh mau percaya. Wah, orang-orang itu kelihatan cepat maju. Namun ia tidak mau mencabut cinta dunia yang lama. Saingan terlalu keras. Akhirnya layulah ia. Kekayaan duniawi atau perkara lain menariknya kembali dari Tuhan. Yang berhasil sampai berbuah, pada akhirnya hanya seperempat saja dari keseluruhan yang mendengar.
Kita tidak dapat membawa segenap dunia kepada Kristus, tetapi kita harus membawa Kristus kepada segenap dunia! Ini tidak mudah, tetapi bagaimanapun juga, ini adalah tugas jemaat Kristus kepada dunia. <>
TUGAS JEMAAT KRISTUS (1)
Jemaat Kristus mempunyai beberapa tugas utama.
Pertama tugas kepada Allah, kedua tugas kepada dunia, ketiga tugas kepada anggota-anggota jemat sendiri. Mari kita selidiki satu per satu ketiga tugas jemaat Kristus ini:
Tugas pertama, penyembahan.
Inilah tugas jemaat kepada Allah. Tugas jemaat yang paling mulia. Sebenarnya dalam Perjanjian Lama, misalnya kitab Mazmur, ada banyak ditulis soal penyembahan. Juga tatkala Yesus bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub, pembicaraan sampai kepada soal penyembahan. Yesus berkata, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:23-24).
Di sini kita lihat bahwa bukan tempatnya yang penting dalam penyembahan, melainkan sikap hati seseorang. Allah Bapa “menghendaki” orang menyembah. Kata “menghendaki” di sini berarti berkenan, mencari, merindukan. Tugas jemaat kepada Allah ialah memelihara hubungan erat dengan Allah, menyembah Dia, memuliakan Dia di tengah-tengah dunia dengan menyembahNya. Kosonglah pelayanan kita, apabila kita tidak mau mengambil waktu menunggu di hadiratNya.
Di sorga sekarang malaikat-malaikat dan orang-oprang kudus sedang menyembah Allah (Wahyu 4:8-11; 5:9-14; 7:9-12). Kelak kita semua akan menyembah Allah di sorga untuk selama-lamanya.
Penyembahan yang benar ialah memusatkan hati kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita kepadaNya. Ini berarti tidak memikirkan kebutuhan diri sendiri maupun berkat-berkat yang Tuhan berikan, tetapi memikirkan Tuhan itu sendiri. Kata yang umum dipakai dalam Perjanjian Baru ialah “proskuneo” (kira-kira 60x) dan diterjemahkan sebagai “menyembah.” Tetapi kata itu sendiri sebenarnya berarti “mencium tangan.”
Mengikuti suatu kebaktian gereja belum tentu suatu penyembahan. Mengapa?
Banyak orang merasa ikut kebaktian sudah berarti menyembah Allah. Kadang-kadang tidak. Sebab penyembah tidak terikat pada tempat (Yohanes 4:20), melainkan pada keadaan hati orang yang menyembah. Menyanyi, memuji, memikirkan kebesaran Allah dapat merupakan penyembahan yang berkenan kepada Allah dan menguatkan kita. Penyembahan yang benar bukan upacara-upacara indah saja, tetapi menyangkut diri kita dan segala yang ada pada kita.
Penyembahan yang benar akan mempersembahkan apa?
Dalam Injil Matius ada satu contoh yang indah mengenai penyembahan kepada Allah. Orang-orang majus dari Timur datang ke tanah Israel – bukan untuk meminta atau memperoleh sesuatu, melainkan – untuk menyembah Dia, Anak Allah yang lahir di kandang Betlehem.
Memohon, meminta, mengharap sesuatu dari Tuhan itu baik. Namun ada yang lebih baik, yaitu menyembah Dia. Orang-orang majus itu datang untuk menyembah Dia (Matius 2:11). Perhatikan bagaimana mereka menyembah. Dengan membuka tempat penyimpanan harta bendanya! Mereka menyembah dengan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur.
Jadi, penyembah sejati mencakup: mempersembahkan diri dan tubuhnya kepada Tuhan (Roma 12:1). Ini berarti hidup bagi Tuhan. Bukan di mulut saja kita menyembah Tuhan, tetapi dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Mempersembahkan sebagian dari harta benda kita kepada Tuhan (I Korintus 16:2). Tetapi lebih dahulu harus mempersembahkan diri (II Korintus 8:5), kemudian barulah dapat mempersembahkan harta kita kepada Tuhan dengan kerelaan hati karena mengasihi Tuhan.
Ingat, segala harta benda yang ada pada kita itupun sebenarnya milik Tuhan, yang dipercayakan olehNya kepada kita untuk dipergunakan bagi kemuliaanNya (II Korintus 9:7). <>
Pertama tugas kepada Allah, kedua tugas kepada dunia, ketiga tugas kepada anggota-anggota jemat sendiri. Mari kita selidiki satu per satu ketiga tugas jemaat Kristus ini:
Tugas pertama, penyembahan.
Inilah tugas jemaat kepada Allah. Tugas jemaat yang paling mulia. Sebenarnya dalam Perjanjian Lama, misalnya kitab Mazmur, ada banyak ditulis soal penyembahan. Juga tatkala Yesus bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub, pembicaraan sampai kepada soal penyembahan. Yesus berkata, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:23-24).
Di sini kita lihat bahwa bukan tempatnya yang penting dalam penyembahan, melainkan sikap hati seseorang. Allah Bapa “menghendaki” orang menyembah. Kata “menghendaki” di sini berarti berkenan, mencari, merindukan. Tugas jemaat kepada Allah ialah memelihara hubungan erat dengan Allah, menyembah Dia, memuliakan Dia di tengah-tengah dunia dengan menyembahNya. Kosonglah pelayanan kita, apabila kita tidak mau mengambil waktu menunggu di hadiratNya.
Di sorga sekarang malaikat-malaikat dan orang-oprang kudus sedang menyembah Allah (Wahyu 4:8-11; 5:9-14; 7:9-12). Kelak kita semua akan menyembah Allah di sorga untuk selama-lamanya.
Penyembahan yang benar ialah memusatkan hati kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita kepadaNya. Ini berarti tidak memikirkan kebutuhan diri sendiri maupun berkat-berkat yang Tuhan berikan, tetapi memikirkan Tuhan itu sendiri. Kata yang umum dipakai dalam Perjanjian Baru ialah “proskuneo” (kira-kira 60x) dan diterjemahkan sebagai “menyembah.” Tetapi kata itu sendiri sebenarnya berarti “mencium tangan.”
Mengikuti suatu kebaktian gereja belum tentu suatu penyembahan. Mengapa?
Banyak orang merasa ikut kebaktian sudah berarti menyembah Allah. Kadang-kadang tidak. Sebab penyembah tidak terikat pada tempat (Yohanes 4:20), melainkan pada keadaan hati orang yang menyembah. Menyanyi, memuji, memikirkan kebesaran Allah dapat merupakan penyembahan yang berkenan kepada Allah dan menguatkan kita. Penyembahan yang benar bukan upacara-upacara indah saja, tetapi menyangkut diri kita dan segala yang ada pada kita.
Penyembahan yang benar akan mempersembahkan apa?
Dalam Injil Matius ada satu contoh yang indah mengenai penyembahan kepada Allah. Orang-orang majus dari Timur datang ke tanah Israel – bukan untuk meminta atau memperoleh sesuatu, melainkan – untuk menyembah Dia, Anak Allah yang lahir di kandang Betlehem.
Memohon, meminta, mengharap sesuatu dari Tuhan itu baik. Namun ada yang lebih baik, yaitu menyembah Dia. Orang-orang majus itu datang untuk menyembah Dia (Matius 2:11). Perhatikan bagaimana mereka menyembah. Dengan membuka tempat penyimpanan harta bendanya! Mereka menyembah dengan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur.
Jadi, penyembah sejati mencakup: mempersembahkan diri dan tubuhnya kepada Tuhan (Roma 12:1). Ini berarti hidup bagi Tuhan. Bukan di mulut saja kita menyembah Tuhan, tetapi dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Mempersembahkan sebagian dari harta benda kita kepada Tuhan (I Korintus 16:2). Tetapi lebih dahulu harus mempersembahkan diri (II Korintus 8:5), kemudian barulah dapat mempersembahkan harta kita kepada Tuhan dengan kerelaan hati karena mengasihi Tuhan.
Ingat, segala harta benda yang ada pada kita itupun sebenarnya milik Tuhan, yang dipercayakan olehNya kepada kita untuk dipergunakan bagi kemuliaanNya (II Korintus 9:7). <>
Langganan:
Postingan (Atom)