Perjamuan Tuhan
Perjamuan Tuhan adalah upacara jemaat yang kedua. Ini juga ditetapkan oleh Tuhan Yesus (Matius 26:26-28), dipraktekkan dalam jemaat rasuli (Kis.Ras.2:42; 20:7), dan diuraikan di dalam surat I Korintus 11:17-34.
Siapakah yang boleh ikut dalam perjamuan Tuhan ?
Alkitab berkata bahwa Perjamuan Tuhan boleh diikuti bersama-sama oleh orang-orang yang “layak makan dan minum,” ( I Kor.11:27). Pernah saya melihat dalam sebuah kebaktian gereja – semua orang mengambil roti dan anggur tanpa memperhatikan hal ini. Sebaliknya di suatu kebaktian lain kelihatan orang-orang agak takut untuk mengambil Perjamuan Tuhan. Ini kedua-duanya kurang betul. Yang penting setiap orang mesti menanyakan diri sendiri, “apakah saya layak makan dan minum Perjamuan Tuhan ini?”
Memang di dalam dirinya sendiri, tak ada seorangpun yang layak. Sebab sekaliannya sudah berbuat dosa. Tetapi ada sebagian orang yang dilayakkan oleh Tuhan, karena orang-orang itu mencari kebenaran dan perlindungan di dalam Yesus Kristus. Itulah yang dimaksudkan di sini. Orang yang layak ialah orang yang dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus. Lihat I Korintus 6:9-11. Ayat sebelas ini adalah salah satu yang terindah di dalam Alkitab! Orang yang layak ialah yang telah “disucikan, dikuduskan, dibenarkan" dalam Nama Tuhan Yesus Kristus.
Di samping itu orang yang layak ialah juga orang yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan (I Yohanes 1:6,7). “Jikalau kita hidup di dalam terang ... maka kita beroleh persekutuan . . . ” Walaupun kita sudah dibenarkan, kita wajib berjalan di dalam terang. Jikalau tidak, kita seyogyanya jangan ikut dalam Perjamuan Tuhan. Misalnya, suami istri yang sedang dalam pertengkaran dan belum diselesaikan.
Sebab itulah Alkitab mengatakan – sebelum ikut Perjamuan Tuhan – setiap orang wajib memeriksa atau menguji dirinya sendiri (bukan menguji orang lain). Lihat I Korintus 11:28. Persoalannya, kita terlalu menguji orang lain. Akan tetapi ada terlebih baik Tuhan sendiri menguji orang itu, sedangkan kita menguji diri sendiri saja.
Tanyakanlah pada diri sendiri sebelum kita mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan:
-apakah ada dosa yang belum saya akui kepada Tuhan dan ditinggalkan? -apakah ada sekat dengan saudara seiman yang belum dibereskan? -apakah ada seorang yang belum saya ampuni kesalahannya kepada saya? -dan sebagainya.
Ini penting. Karena apabila Perjamuan Tuhan diikuti secara tidak layak, dapat mendatangkan hukuman kepada kita (I Korintus 11:29-31). "Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. Kalau kita menguji diri sendiri, hukuman tidak menimpa kita" .
Apakah artinya Makan dan Minum Perjamuan Tuhan?
Pertama sekali harus diperhatikan bahwa Perjamuan Tuhan merupakan suatu lambang saja. Sama seperti baptisan melambangkan kematian, dikubur, kebangkitan dan kehidupan baru; demikian pula roti dan air anggur dalam Perjamuan Tuhan melambangkan tubuh dan darah Yesus yang dihancurkan di Golgota karena dosa-dosa kita.
Ada jemaat yang percaya bahwa ketika diadakan Perjamuan Tuhan, maka roti itu benar-benar menjadi tubuh Tuhan dan air anggur itu benar-benar menjadi darah Tuhan. Itulah sebabnya mereka juga menyebutnya dengan Perjamuan Suci, sebab merasa roti itu adalah tubuh Tuhan yang suci dan air anggur itu adalah darah Tuhan yang suci. Ini tidak benar! Alkitab tidak mengajarkan demikian. Roti itu sama sekali tidak berubah menjadi tubuh Kristus, dan air anggur itu sama sekali tidak berubah menjadi darah Kristus.
Ketika Yesus mengajar murid-muridNya makan dan minum dari roti dan air anggur itu, ia berbicara secara kiasan, “inilah tubuhKu, inilah darahKu,” sama seperti ketika Ia berkata, “Akulah Jalan, Akulah Terang, Akulah Roti Hidup dan sebagainya . . . .” Ketika Yesus berkata, inilah tubuhKu . . . .” tubuhNya itu masih tetap utuh berada pada diriNya, atau “Inilah darahKu . . . .” darahNya itu masih utuh mengalir di tubuhNya tanpa kurang setetespun! Nyata tubuhNya dan darahNya tidak menjadi roti dan anggur, atau sebaliknya, roti dan anggur itu tidak menjadi tubuh dan darah Tuhan. Ini sama seperti ketika Yesus berkata, “Akulah pintu. . . .” ia tidak benar-benar berubah menjadi sebuah pintu, bukan?
Jadi sekali lagi, tubuh dan darah Tuhan cuma dilambangkan saja oleh roti dan air anggur dalam Perjamuan Tuhan tersebut. Atau dengan perkataan lain, roti dan air anggur itu hanya sekedar lambang dari tubuh dan darah Tuhan. Tetapi sebuah lambang yang memiliki arti penting!
Perjamuan Tuhan mempunyai arti suatu peringatan akan Tuhan Yesus (I Korintus 11:24-25).
Yesus berkata, “Perbuatlah ini menjadi suatu peringatan akan Daku. . . .” Sebuah peringatan akan kedatanganNya ke dunia, sengsara dan kematianNya di Golgota karena dosa-dosa kita, kebangkitanNya, dan akan kedatanganNya yang kedua kali nanti ke bumi. Memang kita tidak pernah lupa kepada Yesus. Tetapi Perjamuan Tuhan adalah suatu saat istimewa di mana kita secara khusus mengenang kembali akan Dia.
Perjamuan Tuhan juga mempunyai arti memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (I Korintus 11:26).
Suatu pemberitaan tentang Tuhan Yesus. Seperti baptisan adalah semacam pengakuan atau pernyataan di depan umum, maka Perjamuan Tuhan adalah suatu pemberitaan bahwa kita tetap bersandar kepada Yesus dan kematianNya bagi keselamatan kita. Bahwa kita tetap beriman kepadaNya. Suatu berita kepada umum. Juga suatu pemberitaan akan pengharapan kita terhadap kedatangan Yesus yang keduakalinya nanti untuk memuliakan kita yang percaya kepadaNya. Harapan akan suatu pesta perjamuan yang mulia di sorga apabila kita telah diangkat ke sana.
Yang terakhir, Perjamuan Tuhan mempunyai arti suatu persekutuan dengan Tuhan Yesus dan dengan segala orang tebusanNya (I Korintus 10:16,17).
Ini merupakan kesaksian tentang satu persekutuan antara orang percaya. Dan juga lambang persatuan seluruh tubuh Kristus. Jadi Perjamuan Tuhan mengingatkan kita akan persatuan kita dengan Tuhan Yesus, dan juga dengan seluruh tubuhNya.
Berapa sering Perjamuan Tuhan harus diadakan?
Alkitab tidak menetapkan dengan jelas. Tetapi apabila kita membaca Kisah Para Rasul 2:42, rupanya pada permulaan Perjamuan Tuhan diadakan setiap hari. Kemudian ada contoh diadakan pada hari Minggu saja (Kis.Ras.20:7). Sebenarnya tidak ada satu petunjuk yang mengikat dalam hal ini. Tuhan Yesus hanya berpesan, “Perbuatlah demikian . . . .”
Barangkali yang patut diingat, apabila Perjamuan Tuhan terlalu sering diadakan, mungkin dapat menyebabkan upacara indah ini kehilangan artinya dan menjadi semacam kebiasaan rutin belaka. Sebaliknya apabila terlalu jarang diadakan, jelas sangat merugikan umat Tuhan sendiri. Barangkali sebulan atau dua bulan sekali itu baik, tetapi ada juga jemaat setempat yang mengadakan seminggu sekali, bahkan tiga atau empat kali saja setahun.
Saya kira setiap jemaat berhak menentukan berapa banyak Perjamuan Tuhan harus diadakan di tempat masing-masing. Dan kenyataannya itulah yang selama ini telah dilakukan oleh jemaat Kristus di seluruh dunia. <>
Tampilkan postingan dengan label gereja rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja rumah. Tampilkan semua postingan
PERHIMPUNAN DAN UPACARA JEMAAT KRISTUS (2)
Jemaat Setempat Mempunyai Upacara Tetap
Ada dua upacara, atau disebut juga sakramen (tanda Esrar), dalam jemaat Kristus. Tuhan Yesus sendiri menetapkan dua upacara ini bagi jemaatNya, yaitu baptisan air dan perjamuan Tuhan.
Ada beberapa bahaya berkenaan dengan upacara-upacara jemaat ini. Antara lain, kita dapat kurang menghargai, meremehkan atau melalaikan upacara-upacara itu. Sebaliknya kita juga dapat terjerumus ke dalam sikap terlalu meninggikan upacara-upacara ini, sehingga upacara-upacara itu dianggap mengandung kuasa gaib, menjadi semacam magis. Misalnya, perjamuan Tuhan dianggap terlalu suci sehingga anggurnya tak boleh tumpah sama sekali. Atau baptisan dianggap dapat menyucikan orang dari dosa. Mari kita mulai menyelidiki kedua upacara tersebut :
Baptisan Air
Baptisan adalah upacara jemaat yang pertama. Kita melihat bahwa baptisan ditetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Matius 28:19,20). Dipraktekkan dalam Kisah Para Rasul 2:41. Dan diterangkan dalam surat-surat Perjanjian Baru (Roma 6; Kolose 2:12).
Baptisan ini dilakukan dengan penyelaman di dalam air. Saya tahu ada juga gereja-gereja sekarang yang memakai cara lain, misalnya dengan dipercik dengan air, atau dicurahkan ke atas kepala seseorang. Kata baptisan sendiri berasal dari “baptizo” yang artinya “selam.” Gereja-gereja Yunani yang paling mengerti arti kata ini, masih mempraktekan baptisan air dengan cara selam. Dan meskipun tiada terlalu jelas, di dalam Alkitab sendiri kita dapat melihat contoh-contoh baptisan di dalam air. Misalnya, Tuhan Yesus sendiri (Matius 3:16). Sida-sida yang dibaptiskan oleh Filipus, si penginjil (Kis.Ras.8:38,39).
Bila kita perhatikan Roma 6:4,5, di sini dijelaskan maksudnya baptisan, yaitu mati bagi dosa, dikuburkan dan bangkit bersama Kristus ke dalam kehidupan yang baru. Sehingga baptisan cara selam adalah cara yang paling cocok untuk menggambarkan artinya baptisan. Tetapi saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh dibaptiskan secara lain, misalnya percik. Bahkan cara percik ini timbul karena alasan-alasan praktis. Tetapi apabila dilihat dari segi simbolnya, cara selam lebih cocok menggambarkan arti sebuah baptisan.
Baptisan sebenarnya hanya boleh dilakukan pada orang yang telah diselamatkan. Banyak gereja dewasa ini suka main membaptiskan orang tanpa mempertimbangkan apakah orang itu benar-benar telah mengalami keselamatan pribadi atau belum. Bagaimana baptisan dilakukan dalam Perjanjian Baru? Kata “bertobat” kata “iman” atau kata “percaya,” atau malahan kata “dipenuhi Roh Kudus,” seperti dalam contoh Kornelius si orang kafir, selalu mendahului baptisan (Matius 3:2,36; Kis.Ras.2:37-41; 8:12; 18:8). Dengan perkataan lain, orang yang hendak dibaptis, haruslah orang yang benar-benar sudah bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Syaratnya ini lebih penting dari pada caranya baptisan! Jadi, orang yang sudah tahu bertobat, orang yang sudah tahu percaya, sekarang menyatakan pertobatannya dan imannya itu di dalam upacara baptisan.
Dalam hubungan dengan hal ini, saya tidak melihat ada gunanya anak-anak kecil yang belum mengerti apa-apa dibaptiskan. Dalam Alkitabpun tidak ada bukti bahwa anak-anak kecil seperti itu dibaptiskan. Tuhan Yesus sendiri tidak melakukannya (markus 10:13-16). Dari segi Alkitab, rupanya baptisan anak-anak tidak dapat dibenarkan. Mudah bagi Yesus untuk memberikan perintah “baptislah semua orang dewasa dan anak-anak kecil!” tetapi sebaliknya Ia memerintahkan, “ Baptislah yang percaya dan yang bertobat . . .!” Bagi seseorang yang sudah mengerti hal pertobatan dan hal percaya, serta mengalaminya, barulah baptisan itu mempunyai makna baginya dan maksud baptisan itu mencapai sasarannya (Markus 16:16). Tetapi ada orang yang membaptiskan anak-anak kecil atau bayi dengan memakai alasan “seisi rumah” (Kis.Ras.16:31-34; 18:18; I Kor.1:16; 16:5; Kis.Ras.16:14). Memang benar seisi rumah seseorang dapat diselamatkan, tetapi setiap anggota dalam keluarga itu harus mendengarkan Firman Tuhan lebih dahulu dan percaya. Tuhan tidak menyelamatkan seisi rumah karena iman satu orang saja di dalam rumah tangga itu. Setiap orang bertanggung jawab secara pribadi kepada Tuhan.
Apakah artinya baptisan itu? Dari segi negatif, baptisan itu bukan kelahiran baru. Yohanes 3 menyatakan bahwa seseorang hanya dapat dilahirkan kembali oleh Firman dan Roh. “Air” di sana melambangkan Firman Allah. kita diperanakkan pula oleh Firman Allah (Efesus 5:26,27; I Petrus 1:23). Baptisan bukan pula pengampunan dosa. Karena kita tahu hanya darahYesus dapat menyucikan kita dari segala dosa (I Yoh.1:7). Juga baptisan bukan cara untuk menjadi anggota jemaat Kristus. Di banyak gereja sekarang, seseorang masuk menjadi anggota gereja bila ia dibaptiskan. Tetapi sebetulnya dalam Perjanjian Baru dinyatakan bahwa seseorang menjadi anggota jemaat atau anggota tubuh Kristus, pada waktu ia dibabtiskan oleh Roh Kudus, yaitu di saat ia bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus! Jadi meskipun baptisan air penting dilaksanakan, tetapi bukan perkara yang utama untuk dapat menjadi anggota jemaat Kristus.
Kalau begitu apakah baptisan itu sebenarnya? Dari segi positif, baptisan adalah satu langkah ketaatan kepada Tuhan (Matius 3:15; Yoh 14:21). Orang percaya mau menurut perintah Tuhan Yesus Kristus. Baptisan adalah satu kesaksian pertobatan dan iman (Kis.Ras. 2:41; 9:18). Bahwa seseorang sanggup bertobat dan percaya, dinyatakan dalam ia berbaptis. Baptisan juga adalah satu pernyataan persatuan dengan Kristus (Roma 6:1-10; Galatia 2:19,20). Inilah arti baptisan yang terpenting: seseorang yang percaya mengaku (di depan umum) sama seperti Kristus Yesus dalam kematian, kebangkitan, dan hidup bagi Allah saja.
Baptisan air dilayani oleh siapa? Dilayani oleh orang percaya yang mewakili jemaat Kristus. Rupanya Yesus sendiri tidak membaptiskan orang. Tetapi murid-muridNya membaptiskan (Yoh.4:2). Rasul Paulus sendiri rupanya juga tidak sering membaptiskan orang. Umumnya ia selalu disertai oleh beberapa orang percaya (I Kor.1:17). Paulus menganggap tugasnya memenangkan jiwa bagi Kristus jauh lebih penting dari pada soal membaptiskan orang . Itulah sebabnya ia senang menyerahkan soal membaptiskan orang kepada rekan-rekannya saja. Dan umumnya di masa sekarang baptisan menjadi tugas ketua-ketua atau gembala-gembala jemaat setempat, walaupun di dalam Perjanjian Baru ada petunjuk bahwa kadang-kadang orang biasapun diberi tugas untuk membaptiskan (Kis.Ras.9:18).
Apakah seorang anak bayi yang mati tanpa dibaptis, selamat? Kadang-kadang orang bingung soal ini. Dan beberapa orang dalam gereja takut jangan-jangan anak semacam itu tidak diselamatkan. Kita harus ingat bahwa keselamatan hanya terdapat di dalam Yesus Kristus (Kis.Ras.4:12). Keselamatan bukan di dalam baptisan! Keselamatan seseorang tidak bergantung dari hal apakah ia sudah atau belum berbaptis. Ada satu contoh Perjanjian Lama mengenai anak-anak kecil yang meninggal dunia, yaitu mengenai anak Daud (II Samuel 12:15-23). Anak Daud (yang diperolehnya dari Batsyeba) sesudah lahir tidak lama kemudian meninggal dunia. Jelas anak ini belum sempat di sunat. Tetapi Daud yakin ia akan pergi kepada anaknya itu – di sorga. Dari contoh ini, saya merasa, seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa, kalau dia mati, darah Yesus menutupi dosa anak itu. Demikian juga dengan seorang dewasa, yang walaupun tak sempat dibaptis, asalkan ia sudah bertobat dan percaya, ia akan selamat (Lukas 23:43). <>
Ada dua upacara, atau disebut juga sakramen (tanda Esrar), dalam jemaat Kristus. Tuhan Yesus sendiri menetapkan dua upacara ini bagi jemaatNya, yaitu baptisan air dan perjamuan Tuhan.
Ada beberapa bahaya berkenaan dengan upacara-upacara jemaat ini. Antara lain, kita dapat kurang menghargai, meremehkan atau melalaikan upacara-upacara itu. Sebaliknya kita juga dapat terjerumus ke dalam sikap terlalu meninggikan upacara-upacara ini, sehingga upacara-upacara itu dianggap mengandung kuasa gaib, menjadi semacam magis. Misalnya, perjamuan Tuhan dianggap terlalu suci sehingga anggurnya tak boleh tumpah sama sekali. Atau baptisan dianggap dapat menyucikan orang dari dosa. Mari kita mulai menyelidiki kedua upacara tersebut :
Baptisan Air
Baptisan adalah upacara jemaat yang pertama. Kita melihat bahwa baptisan ditetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Matius 28:19,20). Dipraktekkan dalam Kisah Para Rasul 2:41. Dan diterangkan dalam surat-surat Perjanjian Baru (Roma 6; Kolose 2:12).
Baptisan ini dilakukan dengan penyelaman di dalam air. Saya tahu ada juga gereja-gereja sekarang yang memakai cara lain, misalnya dengan dipercik dengan air, atau dicurahkan ke atas kepala seseorang. Kata baptisan sendiri berasal dari “baptizo” yang artinya “selam.” Gereja-gereja Yunani yang paling mengerti arti kata ini, masih mempraktekan baptisan air dengan cara selam. Dan meskipun tiada terlalu jelas, di dalam Alkitab sendiri kita dapat melihat contoh-contoh baptisan di dalam air. Misalnya, Tuhan Yesus sendiri (Matius 3:16). Sida-sida yang dibaptiskan oleh Filipus, si penginjil (Kis.Ras.8:38,39).
Bila kita perhatikan Roma 6:4,5, di sini dijelaskan maksudnya baptisan, yaitu mati bagi dosa, dikuburkan dan bangkit bersama Kristus ke dalam kehidupan yang baru. Sehingga baptisan cara selam adalah cara yang paling cocok untuk menggambarkan artinya baptisan. Tetapi saya tidak mengatakan bahwa orang tidak boleh dibaptiskan secara lain, misalnya percik. Bahkan cara percik ini timbul karena alasan-alasan praktis. Tetapi apabila dilihat dari segi simbolnya, cara selam lebih cocok menggambarkan arti sebuah baptisan.
Baptisan sebenarnya hanya boleh dilakukan pada orang yang telah diselamatkan. Banyak gereja dewasa ini suka main membaptiskan orang tanpa mempertimbangkan apakah orang itu benar-benar telah mengalami keselamatan pribadi atau belum. Bagaimana baptisan dilakukan dalam Perjanjian Baru? Kata “bertobat” kata “iman” atau kata “percaya,” atau malahan kata “dipenuhi Roh Kudus,” seperti dalam contoh Kornelius si orang kafir, selalu mendahului baptisan (Matius 3:2,36; Kis.Ras.2:37-41; 8:12; 18:8). Dengan perkataan lain, orang yang hendak dibaptis, haruslah orang yang benar-benar sudah bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Syaratnya ini lebih penting dari pada caranya baptisan! Jadi, orang yang sudah tahu bertobat, orang yang sudah tahu percaya, sekarang menyatakan pertobatannya dan imannya itu di dalam upacara baptisan.
Dalam hubungan dengan hal ini, saya tidak melihat ada gunanya anak-anak kecil yang belum mengerti apa-apa dibaptiskan. Dalam Alkitabpun tidak ada bukti bahwa anak-anak kecil seperti itu dibaptiskan. Tuhan Yesus sendiri tidak melakukannya (markus 10:13-16). Dari segi Alkitab, rupanya baptisan anak-anak tidak dapat dibenarkan. Mudah bagi Yesus untuk memberikan perintah “baptislah semua orang dewasa dan anak-anak kecil!” tetapi sebaliknya Ia memerintahkan, “ Baptislah yang percaya dan yang bertobat . . .!” Bagi seseorang yang sudah mengerti hal pertobatan dan hal percaya, serta mengalaminya, barulah baptisan itu mempunyai makna baginya dan maksud baptisan itu mencapai sasarannya (Markus 16:16). Tetapi ada orang yang membaptiskan anak-anak kecil atau bayi dengan memakai alasan “seisi rumah” (Kis.Ras.16:31-34; 18:18; I Kor.1:16; 16:5; Kis.Ras.16:14). Memang benar seisi rumah seseorang dapat diselamatkan, tetapi setiap anggota dalam keluarga itu harus mendengarkan Firman Tuhan lebih dahulu dan percaya. Tuhan tidak menyelamatkan seisi rumah karena iman satu orang saja di dalam rumah tangga itu. Setiap orang bertanggung jawab secara pribadi kepada Tuhan.
Apakah artinya baptisan itu? Dari segi negatif, baptisan itu bukan kelahiran baru. Yohanes 3 menyatakan bahwa seseorang hanya dapat dilahirkan kembali oleh Firman dan Roh. “Air” di sana melambangkan Firman Allah. kita diperanakkan pula oleh Firman Allah (Efesus 5:26,27; I Petrus 1:23). Baptisan bukan pula pengampunan dosa. Karena kita tahu hanya darahYesus dapat menyucikan kita dari segala dosa (I Yoh.1:7). Juga baptisan bukan cara untuk menjadi anggota jemaat Kristus. Di banyak gereja sekarang, seseorang masuk menjadi anggota gereja bila ia dibaptiskan. Tetapi sebetulnya dalam Perjanjian Baru dinyatakan bahwa seseorang menjadi anggota jemaat atau anggota tubuh Kristus, pada waktu ia dibabtiskan oleh Roh Kudus, yaitu di saat ia bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus! Jadi meskipun baptisan air penting dilaksanakan, tetapi bukan perkara yang utama untuk dapat menjadi anggota jemaat Kristus.
Kalau begitu apakah baptisan itu sebenarnya? Dari segi positif, baptisan adalah satu langkah ketaatan kepada Tuhan (Matius 3:15; Yoh 14:21). Orang percaya mau menurut perintah Tuhan Yesus Kristus. Baptisan adalah satu kesaksian pertobatan dan iman (Kis.Ras. 2:41; 9:18). Bahwa seseorang sanggup bertobat dan percaya, dinyatakan dalam ia berbaptis. Baptisan juga adalah satu pernyataan persatuan dengan Kristus (Roma 6:1-10; Galatia 2:19,20). Inilah arti baptisan yang terpenting: seseorang yang percaya mengaku (di depan umum) sama seperti Kristus Yesus dalam kematian, kebangkitan, dan hidup bagi Allah saja.
Baptisan air dilayani oleh siapa? Dilayani oleh orang percaya yang mewakili jemaat Kristus. Rupanya Yesus sendiri tidak membaptiskan orang. Tetapi murid-muridNya membaptiskan (Yoh.4:2). Rasul Paulus sendiri rupanya juga tidak sering membaptiskan orang. Umumnya ia selalu disertai oleh beberapa orang percaya (I Kor.1:17). Paulus menganggap tugasnya memenangkan jiwa bagi Kristus jauh lebih penting dari pada soal membaptiskan orang . Itulah sebabnya ia senang menyerahkan soal membaptiskan orang kepada rekan-rekannya saja. Dan umumnya di masa sekarang baptisan menjadi tugas ketua-ketua atau gembala-gembala jemaat setempat, walaupun di dalam Perjanjian Baru ada petunjuk bahwa kadang-kadang orang biasapun diberi tugas untuk membaptiskan (Kis.Ras.9:18).
Apakah seorang anak bayi yang mati tanpa dibaptis, selamat? Kadang-kadang orang bingung soal ini. Dan beberapa orang dalam gereja takut jangan-jangan anak semacam itu tidak diselamatkan. Kita harus ingat bahwa keselamatan hanya terdapat di dalam Yesus Kristus (Kis.Ras.4:12). Keselamatan bukan di dalam baptisan! Keselamatan seseorang tidak bergantung dari hal apakah ia sudah atau belum berbaptis. Ada satu contoh Perjanjian Lama mengenai anak-anak kecil yang meninggal dunia, yaitu mengenai anak Daud (II Samuel 12:15-23). Anak Daud (yang diperolehnya dari Batsyeba) sesudah lahir tidak lama kemudian meninggal dunia. Jelas anak ini belum sempat di sunat. Tetapi Daud yakin ia akan pergi kepada anaknya itu – di sorga. Dari contoh ini, saya merasa, seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa, kalau dia mati, darah Yesus menutupi dosa anak itu. Demikian juga dengan seorang dewasa, yang walaupun tak sempat dibaptis, asalkan ia sudah bertobat dan percaya, ia akan selamat (Lukas 23:43). <>
PERHIMPUNAN DAN UPACARA JEMAAT KRISTUS (1)
Jemaat Setempat Mengadakan Perhimpunan Tertentu
Tubuh Kristus yang kelihatan, yaitu jemaat setempat, dalam Perjanjian Baru mengadakan perhimpunan. Dewasa ini kita menyebutnya “mengadakan kebaktian.” Perjanjian Baru mencatat bahwa jemaat Kristiani mula-mula menunjukkan persekutuan yang sederhana dan saling mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka hidup dekat bagai keluarga besar, dalam persekutuan yang akrab, saling berbagi di dalam Kristus. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan mengenai perhimpunan ini:
Pertama, perhimpunan itu mempunyai ciri-ciri tertentu (Kis.Ras. 2:42).
Di sana dikatakan bahwa mereka bertekun melakukan perhimpunan itu. Akhirnya mereka berulang kali, terus-menerus mengadakan perhimpunan. Melalui perhimpunan itu, mereka bertekun di dalam :
1. Pengajaran rasul-rasul. Jelas mereka mempelajari doktrin. Pengajaran dasar. Kebenaran kekal. Mengenai Allah, mengenai Tuhan Yesus, mengenai Roh Suci, mengenai manusia, dosa, keselamatan, dan sebagainya.
2. Persekutuan. Ini sangat penting. Kalau persekutuan dilalaikan, bagaimana? Ada banyak orang menyebut dirinya orang Kristen, atau pengikut Kristus. Namun tak pernah mau bersekutu, tak mau mempunyai tanggung jawab, tak mau ikut menyokong, ini orang Kristen macam apa? Perjanjian Baru mencatat bahwa jemaat Kristiani mula-mula menunjukkan persekutuan yang sederhana dan saling mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka hidup dekat bagai keluarga besar, dalam persekutuan yang akrab, saling berbagi di dalam Kristus.
3. Memecahkan roti. Pada waktu itu biasanya mereka mengadakan “perjamuan kasih” lebih dahulu, kemudian menyusul diadakan perjamuan Tuhan.
4. Berdoa. Doa adalah sumber kuasa. Ada orang bilang, doa adalah “an engine room” (ruang mesin, ruang sumber kekuatan). Di dalam doa kita dapat mendengarkan suara Allah. Dengan doa kita dapat dipenuhi dengan kuasaNya. Lihat Efesus 5:19.
5. Nyanyian rohani. Dalam perhimpunan setempat hendaklah ada kegembiraan yang dari Tuhan. Kesukaan dari Tuhan. Hendaklah hati meluap-luap untuk memuji, menyanyi bagi Tuhan. Yang penting seluruh jemaat harus diikutsertakan memuji Tuhan. Lihat I Korintus 14:26.
6. Memakai karunia roh. Lihat sekali lagi surat Rasul Paulus pada jemaat di Korintus, “Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun” (I Kor.14:26).
Dalam kebaktian jemaat setempat, jangan terlalu formal. Berilah keleluasaan bagi Roh Kudus untuk bekerja. Tetapi semuanya harus tertib. Dan apa saja yang dipersembahkan dalam kebaktian itu, baik nyanyian, pengajaran, dan seterusnya, semuanya harus bertujuan memuliakan Allah dan membangun iman segenap jemaat.
Kedua, perhimpunan itu umumnya diadakan pada hari Minggu.
Tidak harus begitu, hanya pada umumnya saja. Pada permulaan malahan jemaat di Yerusalem berkumpul setiap hari (Kis.Ras. 2:46). Dalam semangat kasih pertama akan Kristus, mereka ini tidak mau berpisah satu sama lain. Bahkan mereka ada yang menjual harta bendanya untuk menolong saudara-saudaranya seiman yang kekurangan, dan setiap hari berhimpun bersama-sama.
Ini boleh, ini baik juga.
Tetapi pada akhirnya, oleh karena alasan-alasan praktis, cukup sukar untuk terus berhimpun setiap hari. Sehingga kemudian mereka mengambil waktu untuk berhimpun sekali seminggu saja. Saya kira perubahan ini berlangsung perlahan-lahan. Yang jelas kemudian hari pertama dalam minggu, yaitu hari Minggu (hari kebangkitan Tuhan Yesus) dipilih sebagai hari kebaktian bersama. Lihat Kis.Ras. 20:7; I Kor. 16:1-2.
Tanpa ada peraturan tertentu, lama kelamaan mereka memilih mengadakan kebaktian atau persekutuan pada hari Minggu. Jadi, dalam zaman Perjanjian Baru jemaat sudah menggunakan hari Minggu untuk berhimpun.
Namun, meskipun hari Minggu adalah waktu istimewa untuk bersekutu dan mempelajari Firman Tuhan, sebenarnya hari apa saja adalah hari baik untuk bersekutu dan melayani Dia (Roma 14:5). Kalau dapat diadakan hari Minggu, hendaklah memakai hari Minggu. Tetapi jangan mengadakan peraturan “harus hari Minggu.”
Misalnya, di negara-negara Arab, hari liburnya bukan hari Minggu melainkan hari Jum’at. Sehingga sulit bagi orang-orang Kristen di sana untuk berhimpun pada hari Minggu. Akibatnya mereka mengambil hari Jum’at untuk mengadakan kebaktian. Ini boleh saja. Tuhan juga berkenan.
Ketiga, perhimpunan ini diadakan di berbagai tempat.
Pada saat itu gedung-gedung gereja khusus belum ada. Gedung-gedung gereja baru didirikan pada abad ketiga dan keempat.
Karena pada permulaan tidak ada gedung-gedung gereja, maka jemaat atau orang-orang Kristen itu paling sering berkumpul di dalam rumah-rumah orang percaya (Rom.16:5; Filemon 2, Kolose 4:15; Kis.Ras.20:8).
Sekarang ini, jemaat rumah (Eng: house church), adalah sebutan bagi orang-orang percaya yang memilih berkumpul di rumah-rumah untuk beribadat , mengadakan kebaktian atau persekutuan, perjamuan Tuhan, kegiatan rohani, dsb. karena didasarkan pada keyakinan perlunya kembali ke pola jemaat Alkitabiah di Perjanjian Baru.
Sebenarnya saat ini, di mana-mana sedang berlangsung perubahan di dunia Kekristenan yang bukan didorong oleh kejeniusan atau rencana manusia, melainkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Melalui Roh Kudus yang meniupkan angin pembaharuan, Kristus sedang membersihkan jemaatNya. Ia menggoncangkannya, mengubahnya, meluaskannya, sambil mempersiapkan jemaatNya itu untuk menghadapi penderitaan-penderitaan sekaligus kebangunan besar-besaran di tahun-tahun mendatang … untuk menjadi gerakan jemaat rumah sedunia!
Tampaknya Allah sedang bekerja mengembalikan Kekristenan-pola-Perjanjian Baru, yang dinamakan ‘jemaat rumah’ --- ke atas bumi ini.
Mengapa jemaat rumah?
Seperti sudah disinggung sedikit di atas, para pengikut Kristus mula-mula berkumpul di mana saja, terutama di rumah-rumah pribadi. Kitab Perjanjian Baru banyak mencatat tentang gereja rumah sebagai strategi Yesus dalam menjangkau jiwa-jiwa baru di sebuah desa, atau bahkan wilayah, seperti Kapernaum, Samaria, dan Betania. Jemaat pertama didirikan di Yerusalem, di rumah-rumah orang percaya. Rasul Paulus melanjutkan strategi ini sehingga kita tahu ada gereja-gereja rumah di Korintus, di Efesus, di Filipi, di Kolose, dsb.
Banyak nas Alkitab yang mencatat kehidupan jemaat mula-mula tersebut.
Misalnya, ibadat dan persekutuan diadakan bergilir di rumah-rumah , “Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir …“ (Kisah Para rasul 2:46b-47a).
Pertemuan ibadat dilakukan rumah-rumah, “Salam kepadamu dari jemaat-jemaat di Asia Kecil ... jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu“ (1 Korintus 14:26, bd. Filemon 1:2).
Kadang-kadang diadakan pertemuan kelompok besar, “Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu” (Kisah Para Rasul 20:20). <>
Tubuh Kristus yang kelihatan, yaitu jemaat setempat, dalam Perjanjian Baru mengadakan perhimpunan. Dewasa ini kita menyebutnya “mengadakan kebaktian.” Perjanjian Baru mencatat bahwa jemaat Kristiani mula-mula menunjukkan persekutuan yang sederhana dan saling mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka hidup dekat bagai keluarga besar, dalam persekutuan yang akrab, saling berbagi di dalam Kristus. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan mengenai perhimpunan ini:
Pertama, perhimpunan itu mempunyai ciri-ciri tertentu (Kis.Ras. 2:42).
Di sana dikatakan bahwa mereka bertekun melakukan perhimpunan itu. Akhirnya mereka berulang kali, terus-menerus mengadakan perhimpunan. Melalui perhimpunan itu, mereka bertekun di dalam :
1. Pengajaran rasul-rasul. Jelas mereka mempelajari doktrin. Pengajaran dasar. Kebenaran kekal. Mengenai Allah, mengenai Tuhan Yesus, mengenai Roh Suci, mengenai manusia, dosa, keselamatan, dan sebagainya.
2. Persekutuan. Ini sangat penting. Kalau persekutuan dilalaikan, bagaimana? Ada banyak orang menyebut dirinya orang Kristen, atau pengikut Kristus. Namun tak pernah mau bersekutu, tak mau mempunyai tanggung jawab, tak mau ikut menyokong, ini orang Kristen macam apa? Perjanjian Baru mencatat bahwa jemaat Kristiani mula-mula menunjukkan persekutuan yang sederhana dan saling mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka hidup dekat bagai keluarga besar, dalam persekutuan yang akrab, saling berbagi di dalam Kristus.
3. Memecahkan roti. Pada waktu itu biasanya mereka mengadakan “perjamuan kasih” lebih dahulu, kemudian menyusul diadakan perjamuan Tuhan.
4. Berdoa. Doa adalah sumber kuasa. Ada orang bilang, doa adalah “an engine room” (ruang mesin, ruang sumber kekuatan). Di dalam doa kita dapat mendengarkan suara Allah. Dengan doa kita dapat dipenuhi dengan kuasaNya. Lihat Efesus 5:19.
5. Nyanyian rohani. Dalam perhimpunan setempat hendaklah ada kegembiraan yang dari Tuhan. Kesukaan dari Tuhan. Hendaklah hati meluap-luap untuk memuji, menyanyi bagi Tuhan. Yang penting seluruh jemaat harus diikutsertakan memuji Tuhan. Lihat I Korintus 14:26.
6. Memakai karunia roh. Lihat sekali lagi surat Rasul Paulus pada jemaat di Korintus, “Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun” (I Kor.14:26).
Dalam kebaktian jemaat setempat, jangan terlalu formal. Berilah keleluasaan bagi Roh Kudus untuk bekerja. Tetapi semuanya harus tertib. Dan apa saja yang dipersembahkan dalam kebaktian itu, baik nyanyian, pengajaran, dan seterusnya, semuanya harus bertujuan memuliakan Allah dan membangun iman segenap jemaat.
Kedua, perhimpunan itu umumnya diadakan pada hari Minggu.
Tidak harus begitu, hanya pada umumnya saja. Pada permulaan malahan jemaat di Yerusalem berkumpul setiap hari (Kis.Ras. 2:46). Dalam semangat kasih pertama akan Kristus, mereka ini tidak mau berpisah satu sama lain. Bahkan mereka ada yang menjual harta bendanya untuk menolong saudara-saudaranya seiman yang kekurangan, dan setiap hari berhimpun bersama-sama.
Ini boleh, ini baik juga.
Tetapi pada akhirnya, oleh karena alasan-alasan praktis, cukup sukar untuk terus berhimpun setiap hari. Sehingga kemudian mereka mengambil waktu untuk berhimpun sekali seminggu saja. Saya kira perubahan ini berlangsung perlahan-lahan. Yang jelas kemudian hari pertama dalam minggu, yaitu hari Minggu (hari kebangkitan Tuhan Yesus) dipilih sebagai hari kebaktian bersama. Lihat Kis.Ras. 20:7; I Kor. 16:1-2.
Tanpa ada peraturan tertentu, lama kelamaan mereka memilih mengadakan kebaktian atau persekutuan pada hari Minggu. Jadi, dalam zaman Perjanjian Baru jemaat sudah menggunakan hari Minggu untuk berhimpun.
Namun, meskipun hari Minggu adalah waktu istimewa untuk bersekutu dan mempelajari Firman Tuhan, sebenarnya hari apa saja adalah hari baik untuk bersekutu dan melayani Dia (Roma 14:5). Kalau dapat diadakan hari Minggu, hendaklah memakai hari Minggu. Tetapi jangan mengadakan peraturan “harus hari Minggu.”
Misalnya, di negara-negara Arab, hari liburnya bukan hari Minggu melainkan hari Jum’at. Sehingga sulit bagi orang-orang Kristen di sana untuk berhimpun pada hari Minggu. Akibatnya mereka mengambil hari Jum’at untuk mengadakan kebaktian. Ini boleh saja. Tuhan juga berkenan.
Ketiga, perhimpunan ini diadakan di berbagai tempat.
Pada saat itu gedung-gedung gereja khusus belum ada. Gedung-gedung gereja baru didirikan pada abad ketiga dan keempat.
Karena pada permulaan tidak ada gedung-gedung gereja, maka jemaat atau orang-orang Kristen itu paling sering berkumpul di dalam rumah-rumah orang percaya (Rom.16:5; Filemon 2, Kolose 4:15; Kis.Ras.20:8).
Sekarang ini, jemaat rumah (Eng: house church), adalah sebutan bagi orang-orang percaya yang memilih berkumpul di rumah-rumah untuk beribadat , mengadakan kebaktian atau persekutuan, perjamuan Tuhan, kegiatan rohani, dsb. karena didasarkan pada keyakinan perlunya kembali ke pola jemaat Alkitabiah di Perjanjian Baru.
Sebenarnya saat ini, di mana-mana sedang berlangsung perubahan di dunia Kekristenan yang bukan didorong oleh kejeniusan atau rencana manusia, melainkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Melalui Roh Kudus yang meniupkan angin pembaharuan, Kristus sedang membersihkan jemaatNya. Ia menggoncangkannya, mengubahnya, meluaskannya, sambil mempersiapkan jemaatNya itu untuk menghadapi penderitaan-penderitaan sekaligus kebangunan besar-besaran di tahun-tahun mendatang … untuk menjadi gerakan jemaat rumah sedunia!
Tampaknya Allah sedang bekerja mengembalikan Kekristenan-pola-Perjanjian Baru, yang dinamakan ‘jemaat rumah’ --- ke atas bumi ini.
Mengapa jemaat rumah?
Seperti sudah disinggung sedikit di atas, para pengikut Kristus mula-mula berkumpul di mana saja, terutama di rumah-rumah pribadi. Kitab Perjanjian Baru banyak mencatat tentang gereja rumah sebagai strategi Yesus dalam menjangkau jiwa-jiwa baru di sebuah desa, atau bahkan wilayah, seperti Kapernaum, Samaria, dan Betania. Jemaat pertama didirikan di Yerusalem, di rumah-rumah orang percaya. Rasul Paulus melanjutkan strategi ini sehingga kita tahu ada gereja-gereja rumah di Korintus, di Efesus, di Filipi, di Kolose, dsb.
Banyak nas Alkitab yang mencatat kehidupan jemaat mula-mula tersebut.
Misalnya, ibadat dan persekutuan diadakan bergilir di rumah-rumah , “Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir …“ (Kisah Para rasul 2:46b-47a).
Pertemuan ibadat dilakukan rumah-rumah, “Salam kepadamu dari jemaat-jemaat di Asia Kecil ... jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu“ (1 Korintus 14:26, bd. Filemon 1:2).
Kadang-kadang diadakan pertemuan kelompok besar, “Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu” (Kisah Para Rasul 20:20). <>
Langganan:
Postingan (Atom)