Bagaimana Jemaat Kristus di Perjanjian Baru Diatur
Kita akan menyelidiki pelayan-pelayan yang diberikan tugas tertentu dalam jemaat Kristus Perjanjian Baru. Dan sedapat mungkin tanpa memaksa, saya rasa kita patut berusaha menyesuaikan juga cara-cara pelayanan, cara mengatur jemaat sekarang, dengan cara-cara Perjanjian Baru. Tetapi jangan merasa harus persis begitu.
Tuhan Yesus Kristus sendiri – bukan orang lain – adalah Kepala jemaatNya. Saya sering melihat ada orang yang tidak mempunyai sesuatu anggota badannya. Di kota Surabaya di tepi jalan ada orang yang tidak mempunyai tangan dan kaki. Tetapi tidak pernah saya melihat ada orang yang hidup tanpa kepala.
Kepala adalah yang utama. Jemaat Kristus harus mempunyai Kepala. Jangan berpikir bahwa untuk mempunyai kepala, di jemaat harus ada seorang paus, atau uskup, atau pendeta dan sebagainya. Kristus adalah satu-satunya Kepala jemaat !
Dalam sebuah jemaat mungkin ada sesuatu karunia di antara anggotanya yang tidak berfungsi dengan baik. Ini seperti kakinya terpotong, atau tangannya tidak ada. Mungkin. Atau kurang pelayanan sosial. Kurang ini dan kurang itu. Tetapi bagaimanapun juga, jemaat tanpa Kepala adalah jemaat yang mati.
Jemaat yang hidup harus mempunyai Kepala. Jemaat yang hidup ialah yang berhubungan dengan Kristus sendiri. Orang-orang di dalam jemaat itu secara pribadi harus berhubungan dengan Yesus Kristus. Tidak cukup seorang paus saja, atau seorang uskup, atau seorang pendeta saja yang berhubungan dengan Kristus. Tetapi setiap anggota jemaat harus & berhak berhubungan sendiri dengan Kristus.
Dalam Alkitab ada suatu gambaran indah mengenai hal ini. Perhatikan bahwa papan-papan di Bait Allah semuanya berhubungan langsung dengan pondasinya (Keluaran 26:19-24). Ini menggambarkan bahwa setiap orang percaya harus berhubungan langsung dengan Kristus.
Jadi yang paling penting di sini, Yesus Kristus sendiri adalah Kepala jemaat. Ia mau memimpin. Sistem apa saja yang dipakai oleh sesuatu jemaat setempat sebenarnya tidak terlalu penting, asal Kristus dapat berhubungan dengan segenap anggota dan memimpin jemaat itu.
Kristus memimpin jemaatNya melalui Roh Suci dan Alkitab. Jemaat perlu mencari kehendakNya. <>
Tampilkan postingan dengan label jemaat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jemaat. Tampilkan semua postingan
ORGANISASI JEMAAT KRISTUS (2)
Kedua, Episkopal.
Ini berasal dari kata “episkopas” yang diterjemahkan dengan kata “uskup.” Sistem keuskupan. Dalam jemaat ada pemerintahan oleh uskup-uskup. Seorang uskup sebenarnya adalah pendeta yang diangkat lebih tinggi.
Dalam sistem keuskupan, anggota-anggota gereja memiliki pendeta-pendeta. Dan beberapa pendeta yang diangkat lebih tinggi menjadi uskup. Urutannya : anggota – pendeta – uskup. Uskup-uskup itulah yang memerintah gereja. Contoh gereja-gereja yang memakai sistem ini ialah gereja Anglikan, gereja Metodis, dan beberapa gereja lain. Di Indonesia tidak banyak ditemui gereja yang memakai sistem keuskupan.
Ketiga, Presbiterian.
Dalam sistem ini pemerintah gereja dipegang oleh para “presbutor” yaitu ketua-ketua. Di sini pendeta dimasukkan sebagai salah satu ketua. Dalam sistem ini ada sinode, majelis gereja, yang memerintah gereja. Misalnya di Indonesia ialah gereja-gereja GPIB, GKI, GKT, dan sebagainya.
Keempat, Congregational.
Tekanan dalam sistem ini ialah keotonomian jemaat setempat. Kalau mau sistem yang paling demokrasi, barangkali sistem ini yang paling dekat. Anggota-anggota gereja-lah yang menentukan segala-galanya. Tidak diadakan sinode, majelis dan sebagainya. Semua anggota jemaat setempat mempunyai hak yang sama. Contoh gereja ini misalnya Gereja Baptis.
Dari keempat bentuk organisasi gereja di atas, cara kepausan tidak sesuai dengan Alkitab.
Sedangkan ciri-ciri dari sistem yang lain ada di dalam Alkitab. Ada contoh di mana rasul-rasul ---seperti uskup-uskup--- memerintah. Ada contoh di mana ketua memerintah. Ada contoh di mana anggota-anggota jemaat setempat memerintah.
Dari contoh-contoh ini rupanya Tuhan tidak begitu terikat pada satu sistem saja. Bila kita mengatakan hanya ada satu sistem saja dalam cara mengatur jemaat, kita akan kecewa. Memang ada prinsip-prinsip yang harus dipakai, tetapi tidak boleh mengatakan harus persis begini, atau begitu.
Yang paling penting dalam pemerintahan jemaat, harus diperhatikan bahwa apabila hanya manusia yang memerintah, bisa salah sekali. Tetapi apabila Kristus betul-betul dijadikan Kepala Jemaat yang ditaati dan pimpinanNya senantiasa dicari serta diikuti, dapat menjadi jalan berkat bagi kita semua.
Dalam Perjanjian Baru, Jemaat Setempat Otonom Adanya.
Ini berarti bahwa jemaat setempat sendiri bertanggung jawab atas pelayanan dan keuangan mereka.
Dalam gereja-gereja sekarang, ada semacam “pusat” bagi beberapa gereja setempat yang menyatukan diri dalam satu wadah organisasi. Pusat yang sebenarnya ialah Yesus Kristus!
Tetapi tentu ada baiknya bila di antara gereja-gereja setempat yang bertebaran di mana-mana diadakan semacam persekutuan. Sehingga walaupun setiap gereja otonomi sifatnya, namun satu sama lain tetap saling bersatu sebagai tubuh Kristus. Persekutuan dalam Kristus ini harus tetap menjadi prioritas utama dan harus berada di atas aliran denominasi gereja bahkan di atas keotonoman gereja setempat.
Tuhan tidak begitu memperhatikan dinding organisasi yang kita bangun. Ia rindu melihat suatu persekutuan luas yang didasarkan atas hidup di dalam Roh. Inilah yang akan saling menguatkan dan mendorong. Janganlah keotonoman gereja setempat dijadikan alasan untuk mengisolir diri dari jemaat Tuhan Yesus keseluruhannya. <>
Ini berasal dari kata “episkopas” yang diterjemahkan dengan kata “uskup.” Sistem keuskupan. Dalam jemaat ada pemerintahan oleh uskup-uskup. Seorang uskup sebenarnya adalah pendeta yang diangkat lebih tinggi.
Dalam sistem keuskupan, anggota-anggota gereja memiliki pendeta-pendeta. Dan beberapa pendeta yang diangkat lebih tinggi menjadi uskup. Urutannya : anggota – pendeta – uskup. Uskup-uskup itulah yang memerintah gereja. Contoh gereja-gereja yang memakai sistem ini ialah gereja Anglikan, gereja Metodis, dan beberapa gereja lain. Di Indonesia tidak banyak ditemui gereja yang memakai sistem keuskupan.
Ketiga, Presbiterian.
Dalam sistem ini pemerintah gereja dipegang oleh para “presbutor” yaitu ketua-ketua. Di sini pendeta dimasukkan sebagai salah satu ketua. Dalam sistem ini ada sinode, majelis gereja, yang memerintah gereja. Misalnya di Indonesia ialah gereja-gereja GPIB, GKI, GKT, dan sebagainya.
Keempat, Congregational.
Tekanan dalam sistem ini ialah keotonomian jemaat setempat. Kalau mau sistem yang paling demokrasi, barangkali sistem ini yang paling dekat. Anggota-anggota gereja-lah yang menentukan segala-galanya. Tidak diadakan sinode, majelis dan sebagainya. Semua anggota jemaat setempat mempunyai hak yang sama. Contoh gereja ini misalnya Gereja Baptis.
Dari keempat bentuk organisasi gereja di atas, cara kepausan tidak sesuai dengan Alkitab.
Sedangkan ciri-ciri dari sistem yang lain ada di dalam Alkitab. Ada contoh di mana rasul-rasul ---seperti uskup-uskup--- memerintah. Ada contoh di mana ketua memerintah. Ada contoh di mana anggota-anggota jemaat setempat memerintah.
Dari contoh-contoh ini rupanya Tuhan tidak begitu terikat pada satu sistem saja. Bila kita mengatakan hanya ada satu sistem saja dalam cara mengatur jemaat, kita akan kecewa. Memang ada prinsip-prinsip yang harus dipakai, tetapi tidak boleh mengatakan harus persis begini, atau begitu.
Yang paling penting dalam pemerintahan jemaat, harus diperhatikan bahwa apabila hanya manusia yang memerintah, bisa salah sekali. Tetapi apabila Kristus betul-betul dijadikan Kepala Jemaat yang ditaati dan pimpinanNya senantiasa dicari serta diikuti, dapat menjadi jalan berkat bagi kita semua.
Dalam Perjanjian Baru, Jemaat Setempat Otonom Adanya.
Ini berarti bahwa jemaat setempat sendiri bertanggung jawab atas pelayanan dan keuangan mereka.
Dalam gereja-gereja sekarang, ada semacam “pusat” bagi beberapa gereja setempat yang menyatukan diri dalam satu wadah organisasi. Pusat yang sebenarnya ialah Yesus Kristus!
Tetapi tentu ada baiknya bila di antara gereja-gereja setempat yang bertebaran di mana-mana diadakan semacam persekutuan. Sehingga walaupun setiap gereja otonomi sifatnya, namun satu sama lain tetap saling bersatu sebagai tubuh Kristus. Persekutuan dalam Kristus ini harus tetap menjadi prioritas utama dan harus berada di atas aliran denominasi gereja bahkan di atas keotonoman gereja setempat.
Tuhan tidak begitu memperhatikan dinding organisasi yang kita bangun. Ia rindu melihat suatu persekutuan luas yang didasarkan atas hidup di dalam Roh. Inilah yang akan saling menguatkan dan mendorong. Janganlah keotonoman gereja setempat dijadikan alasan untuk mengisolir diri dari jemaat Tuhan Yesus keseluruhannya. <>
Labels:
congregational,
denominasi,
episkopal,
jemaat,
otonom,
persekutuan,
presbiterian
KEBENARAN UTAMA TENTANG JEMAAT KRISTUS
Jemaat Kristus memiliki tujuh kebenaran utama, sebagai berikut:
Pertama, hanya ada satu tubuh (Efesus 4:4).
Kristus tidak mendirikan jemaat yang dibagi-bagi menjadi beberapa “tubuh.” Semua jemaat Kristus di seluruh dunia adalah tubuhNya, dan tubuh Kristus atau jemaat itu sebenarnya hanya satu saja. Kristus tidak mendirikan jemaat orang Jawa, jemaat orang Madura, jemaat orang kulit putih, jemaat orang Tionghoa, jemaat orang Eskimo, tidak! Hanya satu saja. Yaitu, jemaat Kristus.
Dalam jemaat mula-mula dahulu hal ini merupakan persoalan. Mereka mau membagi-bagi tubuh Kristus. Tetapi Paulus menulis bahwa Kristus telah merobohkan dinding sekat yang ada di tengah-tengah dan menjadikan semuanya satu.
Kedua, Kristus sendiri adalah Kepala Tubuh itu (Efesus 5:23).
Alkitab menekankan hal ini. Setiap orang percaya wajib tunduk kepada Kepala yang satu ini.
Jemaat di seluruh dunia mempunyai satu Kepala saja, yaitu Kristus.
Dan Kristus tidak pernah menyerahkan mandat kepada siapapun juga untuk mengepalai jemaatNya. Oleh karena itu kita tidak bisa menerima ajaran yang menempatkan seseorang pada kedudukan sebagai “kepala gereja.”
Ketiga, setiap orang percaya adalah anggota Tubuh Kristus.
Ini adalah fakta yang sederhana. Jemaat ialah Tubuh Kristus, setiap anggota jemaat ialah anggota Tubuh Kristus (Kolose 1:18; I Korintus 12:12-14).
Tetapi kita harus berhati-hati! Anggota jemaat yang bagaimana? Tidak setiap orang yang terdaftar sebagai anggota gereja setempat lalu otomatis sudah pasti adalah anggota Tubuh itu. Hanyalah mereka yang sudah “ dilahirkan kembali” oleh Roh Kudus berhak menjadi anggota Tubuh Kristus.
Keempat, Roh Kudus adalah wakil Kristus di dalam jemaat (Yohanes 14:16,26).
Kristus pernah berkata kepada murid-muridNya bahwa apabila ada dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, maka Ia ada di tengah-tengah mereka. Tetapi kita tahu Kristus sekarang ada di sorga. Alkitab mengatakan bahwa Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
Bagaimana Kristus dapat juga berada di tengah-tengah kita? Ia mengutus Roh Suci.
Kristus mengatakan bahwa Ia tidak akan meninggalkan murid-muridNya piatu. Ia berjanji akan mengutus seorang Penolong yaitu Roh Suci. Pada hari Pentakosta hal itu dipenuhi, Roh Allah turun dan melahirkan 120 orang sebagai jemaat Kristus yang pertama, kemudian 3000 orang lagi, lalu jumlahnya bertambah menjadi 5000 orang, dan seterusnya. Kristus tinggal di tengah-tengah orang percaya melalui Roh Kudus.
Kelima, jemaat Kristus suci adanya (I Korintus 3:17).
Di dalam Kristus – yaitu secara kedudukan – jemaat adalah kudus. Paulus menyebut orang-orang Kristen di Korintus,di Efesus, di Filipi, di Kolose dan sebagainya sebagai orang-orang kudus.
Karena kedudukan mereka di dalam Kristus adalah kudus, maka setiap orang percaya harus mempunyai kelakuan sehari-hari yang kudus juga. Kondisi dalam kenyataan sehari-hari harus makin lama makin mendekati posisi-nya yang kudus di dalam Kristus. Kita wajib memelihara kesucian jemaat.
Keenam, karunia-karunia diberikan kepada setiap orang percaya untuk membangun jemaat Kristus (Efesus 4:11,12; I Korintus 12:8-10, 28).
Sesuai dengan kehendakNya sendiri, Roh Allah mengaruniakan karunia-karunia yang berlainan kepada setiap orang percaya. Setiap anggota jemaat Kristus diberi paling sedikit sebuah karunia rohani. Karunia yang diberikan kepada seseorang bisa berbeda dari karunia yang diberikan kepada anggota-anggota lainnya. Maksud karunia diberikan supaya setiap orang Kristen dapat melayani, yaitu bekerja bagi pembangunan Tubuh Kristus.
Ketujuh, semua orang percaya adalah imam-imam bagi Allah (Wahyu 1:6).
Kini kita dapat langsung menghadap ke hadirat Allah sebagai imam-imamNya. Kita tidak memerlukan orang lain sebagai perantara kita –kecuali Kristuslah satu-satunya pengantara– untuk berdoa kepada Allah di sorga. <>
Pertama, hanya ada satu tubuh (Efesus 4:4).
Kristus tidak mendirikan jemaat yang dibagi-bagi menjadi beberapa “tubuh.” Semua jemaat Kristus di seluruh dunia adalah tubuhNya, dan tubuh Kristus atau jemaat itu sebenarnya hanya satu saja. Kristus tidak mendirikan jemaat orang Jawa, jemaat orang Madura, jemaat orang kulit putih, jemaat orang Tionghoa, jemaat orang Eskimo, tidak! Hanya satu saja. Yaitu, jemaat Kristus.
Dalam jemaat mula-mula dahulu hal ini merupakan persoalan. Mereka mau membagi-bagi tubuh Kristus. Tetapi Paulus menulis bahwa Kristus telah merobohkan dinding sekat yang ada di tengah-tengah dan menjadikan semuanya satu.
Kedua, Kristus sendiri adalah Kepala Tubuh itu (Efesus 5:23).
Alkitab menekankan hal ini. Setiap orang percaya wajib tunduk kepada Kepala yang satu ini.
Jemaat di seluruh dunia mempunyai satu Kepala saja, yaitu Kristus.
Dan Kristus tidak pernah menyerahkan mandat kepada siapapun juga untuk mengepalai jemaatNya. Oleh karena itu kita tidak bisa menerima ajaran yang menempatkan seseorang pada kedudukan sebagai “kepala gereja.”
Ketiga, setiap orang percaya adalah anggota Tubuh Kristus.
Ini adalah fakta yang sederhana. Jemaat ialah Tubuh Kristus, setiap anggota jemaat ialah anggota Tubuh Kristus (Kolose 1:18; I Korintus 12:12-14).
Tetapi kita harus berhati-hati! Anggota jemaat yang bagaimana? Tidak setiap orang yang terdaftar sebagai anggota gereja setempat lalu otomatis sudah pasti adalah anggota Tubuh itu. Hanyalah mereka yang sudah “ dilahirkan kembali” oleh Roh Kudus berhak menjadi anggota Tubuh Kristus.
Keempat, Roh Kudus adalah wakil Kristus di dalam jemaat (Yohanes 14:16,26).
Kristus pernah berkata kepada murid-muridNya bahwa apabila ada dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, maka Ia ada di tengah-tengah mereka. Tetapi kita tahu Kristus sekarang ada di sorga. Alkitab mengatakan bahwa Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
Bagaimana Kristus dapat juga berada di tengah-tengah kita? Ia mengutus Roh Suci.
Kristus mengatakan bahwa Ia tidak akan meninggalkan murid-muridNya piatu. Ia berjanji akan mengutus seorang Penolong yaitu Roh Suci. Pada hari Pentakosta hal itu dipenuhi, Roh Allah turun dan melahirkan 120 orang sebagai jemaat Kristus yang pertama, kemudian 3000 orang lagi, lalu jumlahnya bertambah menjadi 5000 orang, dan seterusnya. Kristus tinggal di tengah-tengah orang percaya melalui Roh Kudus.
Kelima, jemaat Kristus suci adanya (I Korintus 3:17).
Di dalam Kristus – yaitu secara kedudukan – jemaat adalah kudus. Paulus menyebut orang-orang Kristen di Korintus,di Efesus, di Filipi, di Kolose dan sebagainya sebagai orang-orang kudus.
Karena kedudukan mereka di dalam Kristus adalah kudus, maka setiap orang percaya harus mempunyai kelakuan sehari-hari yang kudus juga. Kondisi dalam kenyataan sehari-hari harus makin lama makin mendekati posisi-nya yang kudus di dalam Kristus. Kita wajib memelihara kesucian jemaat.
Keenam, karunia-karunia diberikan kepada setiap orang percaya untuk membangun jemaat Kristus (Efesus 4:11,12; I Korintus 12:8-10, 28).
Sesuai dengan kehendakNya sendiri, Roh Allah mengaruniakan karunia-karunia yang berlainan kepada setiap orang percaya. Setiap anggota jemaat Kristus diberi paling sedikit sebuah karunia rohani. Karunia yang diberikan kepada seseorang bisa berbeda dari karunia yang diberikan kepada anggota-anggota lainnya. Maksud karunia diberikan supaya setiap orang Kristen dapat melayani, yaitu bekerja bagi pembangunan Tubuh Kristus.
Ketujuh, semua orang percaya adalah imam-imam bagi Allah (Wahyu 1:6).
Kini kita dapat langsung menghadap ke hadirat Allah sebagai imam-imamNya. Kita tidak memerlukan orang lain sebagai perantara kita –kecuali Kristuslah satu-satunya pengantara– untuk berdoa kepada Allah di sorga. <>
DEFINISI JEMAAT YESUS KRISTUS (2)
Asal Usul Istilah Sidang Atau Jemaat : Ekklesia
Kata sidang atau jemaat berasal dari mana? Alkitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani (Gerika). Di sana terdapat istilah Yunani: ekklesia. Kata inilah yang diterjemahkan menjadi sidang atau jemaat.
Kata ekklesia dipakai sebanyak 115 kali dalam Perjanjian Baru. Kebanyakan mengenai sidang jemaat setempat. Tetapi kira-kira 20 kali dipakai secara lebih luas, mencakup himpunan umum dari orang-orang di mana-mana.
Misalnya, ketika Yesus berkata: “Aku akan mendirikan jemaatKu(=ekklesiaKu),” di sini kata ekklesia berarti himpunan umum dari orang-orang di segala tempat, bukan hanya jemaat di Yerusalem atau di Antiokhia saja. Berarti jemaat di seluruh dunia adalah jemaatNya Kristus.
Apabila ada pendeta atau orang yang berani berkata, “Ini gereja saya!” harap dia berhati-hati! Siapa yang mempunyai jemaat (gereja)? Kristus! Tidak ada seorangpun yang memiliki jemaat kecuali Kristus sendiri. Yesus berkata : JemaatKu.
Apakah artinya kata ekklesia? Artinya indah sekali! Kata ekklesia berarti “orang-orang yang dipanggil keluar.” Kata ekklesia tidak pernah berarti bangunan atau aliran. Kata ini selalu berarti orang-orang.
Tuhan Yesus tidak terlalu tertarik dengan bangunan-bangunan bagus yang dibangun dengan biaya besar. Yesus berurusan dengan hati manusia, dengan jiwa orang. Allah yang mengatakan mengasihi isi dunia – bukanlah mengasihi gunung, laut, danau, binatang, atau bintang di cakrawala sekalipun – adalah mengasihi manusia. Mengasihi orang-orang.
Ekklesia adalah orang-orang. Dan mereka adalah orang-orang yang dipanggil oleh Allah (Roma 8:29,30). Misalnya gubernur hendak berjumpa dengan rakyat di suatu desa, maka seluruh penduduk desa itu dipanggil untuk berhimpun.
Allah memanggil semua orang. Ini kita sebut panggilan Allah. Tetapi belum semua mendengar panggilan Allah, dan tidak semua mau datang kepada panggilan Allah. Supaya semua orang di dunia bisa mendengar panggilan ini, kita bertanggung jawab menyebar luaskan panggilan ini. Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa mereka dipanggil melalui pemberitaan Injil (II Tesalonika 2:14).
Orang-orang ini dipanggil keluar. Semua orang dipanggil, tetapi hanya sebagian yang mau keluar. Keluar dari apa? Keluar dari dosa, keluar dari hidup yang sia-sia, keluar dari kegelapan rohani, keluar dari hukuman kekal, dan lain-lain. I Petrus 2:9 mengatakan bahwa kita dipanggil untuk keluar dari kegelapan kepada terang Allah.
Jadi, sekarang kita sampai pada sebuah definisi. Sidang jemaat Kristus adalah suatu himpunan istimewa yang terdiri dari orang-orang yang mendengar dan menurut panggilan Allah. Mereka bertobat dari dosa, percaya kepada Yesus Kristus, dilahirkan kembali oleh Roh Suci, dan sekarang sebagai milik Allah mereka hidup dalam kesucian. Tanah air mereka ada di sorga (Roma 1:6,7; Efesus 5:25-28; Filipi 3:20).
Apakah saudara sudah mendengar panggilan Allah?
Apakah saudara sudah bertobat?
Apakah saudara sudah percaya kepada Yesus Kristus?
Apakah saudara sudah dilahirkan kembali oleh Roh Suci?
Mungkin nama saudara sudah terdaftar di salah satu gereja setempat – atau bahkan di sepuluh buah gereja – tetapi apakah nama saudara sudah terdaftar di sorga? Ini yang terpenting! <>
Kata sidang atau jemaat berasal dari mana? Alkitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani (Gerika). Di sana terdapat istilah Yunani: ekklesia. Kata inilah yang diterjemahkan menjadi sidang atau jemaat.
Kata ekklesia dipakai sebanyak 115 kali dalam Perjanjian Baru. Kebanyakan mengenai sidang jemaat setempat. Tetapi kira-kira 20 kali dipakai secara lebih luas, mencakup himpunan umum dari orang-orang di mana-mana.
Misalnya, ketika Yesus berkata: “Aku akan mendirikan jemaatKu(=ekklesiaKu),” di sini kata ekklesia berarti himpunan umum dari orang-orang di segala tempat, bukan hanya jemaat di Yerusalem atau di Antiokhia saja. Berarti jemaat di seluruh dunia adalah jemaatNya Kristus.
Apabila ada pendeta atau orang yang berani berkata, “Ini gereja saya!” harap dia berhati-hati! Siapa yang mempunyai jemaat (gereja)? Kristus! Tidak ada seorangpun yang memiliki jemaat kecuali Kristus sendiri. Yesus berkata : JemaatKu.
Apakah artinya kata ekklesia? Artinya indah sekali! Kata ekklesia berarti “orang-orang yang dipanggil keluar.” Kata ekklesia tidak pernah berarti bangunan atau aliran. Kata ini selalu berarti orang-orang.
Tuhan Yesus tidak terlalu tertarik dengan bangunan-bangunan bagus yang dibangun dengan biaya besar. Yesus berurusan dengan hati manusia, dengan jiwa orang. Allah yang mengatakan mengasihi isi dunia – bukanlah mengasihi gunung, laut, danau, binatang, atau bintang di cakrawala sekalipun – adalah mengasihi manusia. Mengasihi orang-orang.
Ekklesia adalah orang-orang. Dan mereka adalah orang-orang yang dipanggil oleh Allah (Roma 8:29,30). Misalnya gubernur hendak berjumpa dengan rakyat di suatu desa, maka seluruh penduduk desa itu dipanggil untuk berhimpun.
Allah memanggil semua orang. Ini kita sebut panggilan Allah. Tetapi belum semua mendengar panggilan Allah, dan tidak semua mau datang kepada panggilan Allah. Supaya semua orang di dunia bisa mendengar panggilan ini, kita bertanggung jawab menyebar luaskan panggilan ini. Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa mereka dipanggil melalui pemberitaan Injil (II Tesalonika 2:14).
Orang-orang ini dipanggil keluar. Semua orang dipanggil, tetapi hanya sebagian yang mau keluar. Keluar dari apa? Keluar dari dosa, keluar dari hidup yang sia-sia, keluar dari kegelapan rohani, keluar dari hukuman kekal, dan lain-lain. I Petrus 2:9 mengatakan bahwa kita dipanggil untuk keluar dari kegelapan kepada terang Allah.
Jadi, sekarang kita sampai pada sebuah definisi. Sidang jemaat Kristus adalah suatu himpunan istimewa yang terdiri dari orang-orang yang mendengar dan menurut panggilan Allah. Mereka bertobat dari dosa, percaya kepada Yesus Kristus, dilahirkan kembali oleh Roh Suci, dan sekarang sebagai milik Allah mereka hidup dalam kesucian. Tanah air mereka ada di sorga (Roma 1:6,7; Efesus 5:25-28; Filipi 3:20).
Apakah saudara sudah mendengar panggilan Allah?
Apakah saudara sudah bertobat?
Apakah saudara sudah percaya kepada Yesus Kristus?
Apakah saudara sudah dilahirkan kembali oleh Roh Suci?
Mungkin nama saudara sudah terdaftar di salah satu gereja setempat – atau bahkan di sepuluh buah gereja – tetapi apakah nama saudara sudah terdaftar di sorga? Ini yang terpenting! <>
DEFINISI JEMAAT YESUS KRISTUS (1)
Tiga Istilah Yang Umum Dipakai
Apakah artinya jemaat Yesus Kristus?
Ada yang memakai istilah ‘gereja’. Misalnya, Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB), Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gereja Kristus Tuhan (GKT), Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI) dan lain-lain. Istilah ‘gereja’ di sini sebenarnya dipakai untuk menjelaskan aliran. Dalam arti aliran yang memiliki anggota dari beberapa ribu sampai beberapa ratus ribu orang.
Tetapi bisa juga berarti gedung atau tempat. Misalnya, banyak orang datang berbakti di gereja anu. Kata ‘gereja’ ini menurut kamus berasal dari kata Portugis, yang berarti gedung. Di dalam Alkitab sendiri tidak terdapat kata gereja. Dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tidak ada kata gereja.
Dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan lama, dipakai istilah ‘sidang’. Ini adalah istilah Indonesia yang berarti suatu himpunan. Gedung atau tempat dari tembok tidak pernah disebut sidang. Hanya himpunan orang-orang yang disebut sidang.
Lalu dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan baru dipakai istilah ‘jemaat’. Kata ini berasal dari bahasa Arab, yang berarti suatu himpunan, rombongan, atau pertemuan. Jadi istilah ini juga tidak ditujukan kepada gedung atau tempat, melainkan kepada orang.
Ketika Yesus berkata bahwa Ia akan mendirikan jemaatNya (Matius 16:18), Ia tidak memaksudkan sebuah gedung besar yang megah. Tidak! Gedung bukan jemaat. Jemaat adalah orang-orang.
Pada masa kini istilah yang sering dipakai ialah ‘gereja’. Ini tidak apa-apa, asalkan artinya sungguh dimengerti. Kita boleh saja memakai kata gereja asal yang kita maksudkan bukan gedung atau aliran, melainkan orang. <>
Apakah artinya jemaat Yesus Kristus?
Ada yang memakai istilah ‘gereja’. Misalnya, Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB), Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gereja Kristus Tuhan (GKT), Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI) dan lain-lain. Istilah ‘gereja’ di sini sebenarnya dipakai untuk menjelaskan aliran. Dalam arti aliran yang memiliki anggota dari beberapa ribu sampai beberapa ratus ribu orang.
Tetapi bisa juga berarti gedung atau tempat. Misalnya, banyak orang datang berbakti di gereja anu. Kata ‘gereja’ ini menurut kamus berasal dari kata Portugis, yang berarti gedung. Di dalam Alkitab sendiri tidak terdapat kata gereja. Dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tidak ada kata gereja.
Dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan lama, dipakai istilah ‘sidang’. Ini adalah istilah Indonesia yang berarti suatu himpunan. Gedung atau tempat dari tembok tidak pernah disebut sidang. Hanya himpunan orang-orang yang disebut sidang.
Lalu dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan baru dipakai istilah ‘jemaat’. Kata ini berasal dari bahasa Arab, yang berarti suatu himpunan, rombongan, atau pertemuan. Jadi istilah ini juga tidak ditujukan kepada gedung atau tempat, melainkan kepada orang.
Ketika Yesus berkata bahwa Ia akan mendirikan jemaatNya (Matius 16:18), Ia tidak memaksudkan sebuah gedung besar yang megah. Tidak! Gedung bukan jemaat. Jemaat adalah orang-orang.
Pada masa kini istilah yang sering dipakai ialah ‘gereja’. Ini tidak apa-apa, asalkan artinya sungguh dimengerti. Kita boleh saja memakai kata gereja asal yang kita maksudkan bukan gedung atau aliran, melainkan orang. <>
EKKLESIOLOGI ... Intro
Ekklesiologi adalah pengajaran tentang Jemaat Yesus Kristus.
Injil Matius 16 : 13–18 berbunyi: Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-muridNya: “Kata orang siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “ Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan : Elia, dan ada pula yang mengatakan: Yeremia, atau salah seorang dari nabi.”
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Kata Yesus kepadaNya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan JemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya ... ”
Perhatikan ayat 18. Yesus berkata: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya.” Yesus berjanji akan mendirikan jemaatNya di atas batu karang ini. Bukan di atas dasar Petrus. Petrus bukan batu karang yang kokoh, malahan sering ia bagaikan gelombang air laut yang terhempas kian kemari.
Apakah batu karang itu?
Yesus akan mendirikan jemaatNya di atas pengakuan Petrus! Di atas Yesus Kristus sendiri yang diakui oleh Petrus sebagai Mesias. Dan alam maut tidak akan menguasainya.
Ada sebagian orang yang menekankan penginjilan. Memang menurut Alkitab penginjilan adalah tugas pokok setiap orang Kristen. Tetapi penginjilan saja, tidak cukup.
Membawa satu orang di sini kepada Kristus, membawa satu lagi kepada Kristus di sana, dan membawa beberapa orang lagi di kota lain kepada Kristus tanpa membawa mereka kepada suatu persekutuan yang disebut jemaat Kristus, tidak cukup. Mereka tidak akan tahan. Mereka memerlukan persekutuan. Maka penginjilan harus disusul dengan pembentukan jemaat.
Inilah yang akan kita bicarakan: Jemaat Yesus Kristus. <>
Injil Matius 16 : 13–18 berbunyi: Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-muridNya: “Kata orang siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “ Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan : Elia, dan ada pula yang mengatakan: Yeremia, atau salah seorang dari nabi.”
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Kata Yesus kepadaNya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan JemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya ... ”
Perhatikan ayat 18. Yesus berkata: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya.” Yesus berjanji akan mendirikan jemaatNya di atas batu karang ini. Bukan di atas dasar Petrus. Petrus bukan batu karang yang kokoh, malahan sering ia bagaikan gelombang air laut yang terhempas kian kemari.
Apakah batu karang itu?
Yesus akan mendirikan jemaatNya di atas pengakuan Petrus! Di atas Yesus Kristus sendiri yang diakui oleh Petrus sebagai Mesias. Dan alam maut tidak akan menguasainya.
Ada sebagian orang yang menekankan penginjilan. Memang menurut Alkitab penginjilan adalah tugas pokok setiap orang Kristen. Tetapi penginjilan saja, tidak cukup.
Membawa satu orang di sini kepada Kristus, membawa satu lagi kepada Kristus di sana, dan membawa beberapa orang lagi di kota lain kepada Kristus tanpa membawa mereka kepada suatu persekutuan yang disebut jemaat Kristus, tidak cukup. Mereka tidak akan tahan. Mereka memerlukan persekutuan. Maka penginjilan harus disusul dengan pembentukan jemaat.
Inilah yang akan kita bicarakan: Jemaat Yesus Kristus. <>
Langganan:
Postingan (Atom)